Showing posts with label perubahan iklim. Show all posts
Showing posts with label perubahan iklim. Show all posts

Saturday, 19 February 2011

9 Kota Penyumbang Emisi Karbon dan Metan Terbesar di Dunia

Sebuah artikel di website National Geographic yang dirilis pada 9 Februari 2011 lalu mengemukakan hasil sebuah studi emisi gas polutan yang dilakukan di 100 kota dari 33 negara di dunia. Studi yang merupakan kolaborasi riset antara World Bank dengan The University of Toronto ini menyebutkan 9 kota di dunia yang merupakan kota paling berpolusi yaitu:

1. Rotterdam - Belanda
Rotterdam menghasilkan total emisi karbon dioksida dan metan rata-rata 29,8 ton per warga per tahun yang mayoritas merupakan hasil dari aktifitas pelabuhan yang berupa gas buangan bahan bakar kapal dan industri.

Port of Rotterdam 
(Image source: www.ordons.com via google)

2. Austin, Texas - Amerika Serikat
Austin berada di urutan kedua sebagai kota paling berpolusi dengan emisi karbon dan metan yang mencapai sekitar 24 ton per penduduk per tahunnya yang merupakan polusi yang dihasilkan oleh sektor konsumsi yaitu tingginya tingkat penggunaan kendaraan bermotor milik pribadi.

Austin, Texas - USA 
(Image source: michaelpaynespictures.blogspot.com via google)


3. Denver, Colorado - Amerika Serikat
Denver menghasilkan emisi gas polutan sebanyak rata-rata 21,5 ton per warga per tahunnya yang diperoleh dari aktifitas harian warga kotanya. Jumlah ini merupakan dua kali lipat dari total emisi New York yang 'hanya' mencapai sekitar 10,5 ton per warga per tahun. Gas polutan di Kota Denver juga disumbang oleh beberapa pembangkit listrik yang masih menggunakan sumber tenaga dari bahan tambang batu bara.

Denver, Colorado - USA
(Image source: www.bylandwaterandair.com via google)


4. Washington DC - Amerika Serikat
DC berada di urutan keempat dengan total emisi CO2 dan metan mencapai sekitar hampir 20 ton per kapita per tahun yang sebagian besar merupakan emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

Washington DC - USA 
(Image source: kenlevine.blogspot.com via google)


5. Minneapolis, Minnesotta - Amerika Serikat
Serupa dengan Denver dan DC, Minneapolis juga menghasilkan emisi karbon dan metan yang tinggi dari pembangkit listrik tenaga batu baranya dengan jumlah rata-rata sekitar 18 ton per penduduk per tahun.

Minneapolis, Minnesotta - USA
(Image source: www.aerialarchives.com via google)


6. Calgary - Canada
Calgary berada di urutan keenam dengan jumlah emisi yang menyerupai Minneapolis yaitu sekitar 18 ton per orang per tahun yang juga merupakan buangan dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

Calgary - Canada 
(Image source: www.canadianhomestayagency.com via google)


7. Menlo Park, California - Amerika Serikat
Kendati memiliki sumber pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan Denver, DC dan Minneapolis, namun Menlo Park/California menduduki peringkat 7 dunia sebagai kota pensuplai karbon dan metan terbesar dengan jumlah rata-rata 16 ton per orang per tahun yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar minyak pada kendaraan bermotor.

Menlo Park, California - USA 
(Image source: www.cswst2.com via google)


8. Dallas, Texas - Amerika Serikat
Penduduk Dallas menghasilkan sedikitnya 15 ton karbon dan metan per tahunnya.

Dallas, Texas - USA
(Image source: www.skyscraper.com via google)


9. Stuttgart - Jerman
Stuttgart mengemisi sekitar 12 ton karbon dan metan per penduduk per tahunnya sebagai hasil aktifitas industri kota.

Stuttgart - Germany
(Image source: www.flickr.com via google)

Studi di atas mengukur tingkat emisi karbon rata-rata yang dihasilkan dari aktifitas produksi dan konsumsi. Ada beberapa kota yang memiliki emisi tinggi sebagai hasil aktifitas industri, seperti misalnya Shanghai dan Beijing, namun konsumsi energi oleh warga kota yang efisien menghasilkan emisi karbon dan metan yang sangat rendah. Hal ini mampu membuat jumlah total emisi gas polutan di Shanghai dan Beijing lebih rendah dibandingkan kota lainnya yang menjadi objek pada studi ini. 

Para peneliti menyebutkan bahwa desain dan tata letak (layout) kota memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat emisi karbon yang dihasilkan warga kotanya. Kota dengan sebaran wilayah permukiman yang melebar membuat tingkat efisiensi penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor sangat rendah, penduduk dengan jenis sebaran kota jenis ini cenderung menggantungkan pergerakan dan transportasinya kepada kendaraan bermotor pribadi. Sedangkan kota yang compact dengan tingkat kepadatan tinggi yang mengharuskan warga beraktifitas dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan umum akan mampu membantu menekan laju emisi gas polutan dari sektor konsumsi.

Hal ini pula yang membuat tingkat emisi karbon dan metan kota-kota di Eropa cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kota-kota di Amerika Serikat. Kota-kota di Eropa cenderung bersifat compact, dengan kepadatan tinggi dan sebaran kota (urban sprawl) yang terbatas. Sedangkan kota-kota di Amerika Serikat cenderung memiliki sebaran kota melebar ke arah suburban dengan kawasan permukiman baru yang dikembangkan bagi warga kota yang cenderung tidak menyukai tinggal di kawasan pusat perkotaan yang sibuk, dengan resiko perjalanan menuju lokasi bekerja akan memakan waktu lebih panjang dan konsumsi energi lebih tinggi serta emisi gas polutan lebih besar pula.

Dan Hoornweg, Urban Specialist yang terlibat dalam studi ini juga menyebutkan manfaat lain dari desain kota yang compact adalah bahwa bila seseorang dapat mencapai satu tempat ke tempat lainnya dalam waktu yang lebih singkat selain dapat mendukung efisiensi waktu juga akan mampu meningkatkan tingkat kualitas hidup (the quality of life) orang tersebut. [Hasil studi lengkapnya akan di-publish di jurnal Environment & Urbanization tahun ini]

Dari studi di atas kita dapat melihat bahwa untuk menekan laju emisi karbon dan metan ke udara yang dapat membentuk dampak rumah kaca bagi bumi (yang mengakibatkan pemanasan global!), dibutuhkan berbagai upaya meliputi: desain ruang kota dan perencanaan tata guna lahan yang tepat; penggunaan sumber tenaga listrik ramah lingkungan (seperti sumber hydro, solar dan angin); efisiensi penggunaan listrik pada bangunan dan rumah tinggal; serta efisiensi penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Selain itu cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengimbangi emisi karbon, menyerap polutan dan debu sebagai hasil aktifitas masyarakat modern, serta mengurangi efek urban heat island akibat konsentrasi pembangunan dan kegiatan manusia di wilayah perkotaan adalah dengan bertanam [lebih banyak] pohon! Informasi lain terkait pengaruh pohon terhadap gas polutan bisa dibaca di:
http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2010/12/bukan-sekedar-pohon.html
http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2010/12/trembesi.html

Hasil penelitian Dan Hoornweg dan timnya menyisakan pertanyaan lain bagi saya. Melihat bahwa tidak satupun dari kota-kota yang disebutkan oleh Hoornweg [dan tim penelitiannya] merupakan kota yang berada di kawasan negara berkembang (developing countries), lalu kenapa gembar-gembor konsentrasi pengurangan emisi malah (seolah-olah) dilimpahkan menjadi tanggung jawab negara berkembang?

USA pernah berkeras tidak mau menandatangani perjanjian Kyoto kalau negara-negara berkembang tidak 'dipaksa' membatasi emisi karbon-nya (baca di: http://www.americans-world.org/digest/global_issues/global_warming/gw3.cfm).

Lalu dibentuk program-program khusus untuk negara berkembang, misalnya seperti Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) yang bahkan UN membentuk projek khusus untuk menangani isu ini yaitu UN REDD Programme [http://www.un-redd.org/]. Dalam program seperti REDD ini negara-negara berkembang diberikan insentif untuk mencegah deforestasi dan degradasi hutannya lalu implementasi dan progresnya dimonitor oleh negara-negara maju (terutama oleh negara pemberi dana). Keterlibatan Indonesia di REDD bisa dibaca di: http://acehclimatechange.org/2010/06/30/dana-perubahan-iklim-norwegia-gratis/ dan http://acehclimatechange.org/2010/07/27/badan-pengurangan-emisi-segera-dibentuk/

Bagaimana negara besar seperti USA, yang justru merupakan penyumbang terbesar emisi karbon dan metan (berdasarkan penelitian di atas) mampu 'mengatur' warga negaranya agar merubah gaya hidup penyumbang polusi menjadi lebih bertanggung jawab terhadap seluruh warga dunia lainnya? Lalu bagaimana kita sebagai warga negara berkembang bisa ikut mengawasi progres yang mereka lakukan untuk secara signifikan menekan pengurangan emisi dari negaranya? Mudah-mudahan saya bisa segera memperoleh jawaban untuk kelanjutan tulisan ini :)

Sheffield . 19 February 2011

Artikel Rujukan:
http://news.nationalgeographic.com/news/energy/2011/02/pictures/110209-surprisingly-dirty-cities-science-environment-global-warming-greenhouse/#/gassiest-cities-greenhouse-gas-co2-rotterdam_32050_600x450.jpg

Tuesday, 18 January 2011

Perubahan Iklim: Masih Belum Percaya?

Merasa heran bahwa masih banyak juga orang yang belum percaya (bahkan tidak peduli) kalau perubahan iklim global memang sudah terjadi. Gawatnya lagi yang tidak percaya (atau pura-pura tidak percaya?) adalah kalangan pengambil keputusan, pembuat kebijakan dan pemimpin wilayah.

Bermula dari obrolan ringan dengan seorang teman lawan main scrabble-online, kebetulan kita berdua punya visi yang sama tentang perubahan iklim. Teman-ku, yang memiliki bisnis di bidang software developer di Derbyshire itu, dengan kesalnya bilang, "Pemerintah (UK) tidak akan percaya dengan perubahan iklim sampai satu saat London tenggelam kebanjiran!"
Obrolan ringan tersebut kemudian diikuti dengan mencuatnya berita dari tanah air tentang lonjakan harga cabe, dan lain-lain. Akhirnya aku pun merasa ingin merekam momen beberapa saat terakhir ini ke dalam tulisan (yang bobotnya juga ringan-ringan saja.. hehehe)


Fenomena Musim Dingin
Salah satu fenomena yang aku alami sendiri adalah musim dingin (winter) yang tidak beraturan di Sheffield, UK. Tahun 2008 aku mengalami musim dingin yang durasi-nya relatif 'normal' hanya saja salju tahun itu dicatat sebagai salju terparah (lebat & tebal) dalam 18 tahun terakhir catatan musim dingin di UK. Dampaknya adalah transportasi terhambat, beberapa rute bis di-stop, sekolah ditutup, dan warga kota protes karena menganggap pemerintah tidak cepat tanggap menghadapi salju yang parah serta tidak tersedianya garam (grit) pelarut es di jalanan dalam jumlah yang cukup untuk mengatasi tumpukan salju dan jalan yang licin. "Where do they bring our taxes? We need more grit now, that's why we pay taxes!" begitu teriak protes warga di sejumlah media.

Tahun 2009, ketika itu aku berada di Indonesia, teman-teman bercerita bahwa mereka mengalami winter yang lebih panjang, sejak Desember 2008 hingga Februari 2009 mereka masih berurusan dengan salju yang juga berdampak sama pada transportasi dan sekolah-sekolah.

Tahun ini, 2010, durasi turunnya salju hanya sekitar satu minggu saja di akhir Desember 2010. Lalu udara kering tanpa salju, tetapi tiba-tiba mendadak suhu naik mencapai 11-12 derajat Celcius. Kemudian kami membaca berita prediksi bahwa salju akan turun lagi sebagai dampak angin dingin dari Skandinavia di bagian utara, lalu suhu pun turun lagi mencapai minus 10 derajat Celcius dan salju turun untuk beberapa saat lalu menguap kembali dalam satu atau dua hari. Benar-benar tidak dapat diduga! Parahnya lagi suhu bisa berubah-ubah drastis dalam sehari, misalnya pagi hari terasa agak 'hangat' dan kita nekat meninggalkan rumah dengan jaket tipis bisa saja sore harinya ketika kembali ke rumah suhu di jalanan membuat kita menggigil dengan jaket tipis itu. Jadi yang biasanya kami lakukan sebelum keluar rumah adalah mengecek trend perubahan suhu 24 jam serta (mau gak mau harus rely on) prediksi cuaca via website BBC, juga berusaha untuk selalu keluar rumah berbekal jaket tebal, supaya aman :)

Fenomena Ubur-Ubur
Beberapa hari terakhir saya memperhatikan status facebook teman-teman di Banda Aceh yang hobi berselancar ombak di laut. Banyak teman mengeluhkan sengatan ubur-ubur karena tiba-tiba saja di wilayah yang biasanya mereka gunakan sebagai lokasi berselancar diramaikan dengan kehadiran ubur-ubur. Fenomena serupa beberapa kali terjadi di Banda Aceh yang notabene memang merupakan kota pantai, yang saya ingat sebelumnya pernah warga kota ramai-ramai berkumpul di jembatan besar di tengah kota dan di dekat kampus untuk melihat kawanan ubur-ubur yang 'nyasar' ke sungai besar yang melintasi kota kami, mungkin mereka tersasar masuk ke aliran sungai melalui muara yang letaknya memang tidak jauh dari jembatan tersebut.

Beberapa artikel yang sempat saya baca menyebutkan bahwa dalam kondisi tertentu populasi ubur-ubur dapat meningkat drastis bahkan menjadi hama bagi ekosistem laut teritori tempatnya berdiam karena ubur-ubur terkenal sebagai pemangsa plankton yang rakus sehingga ubur-ubur yang hadir berkelompok dalam jumlah besar akan merugikan pemakan plankton lainnya. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab pertumbuhan populasi ubur-ubur yang sangat pesat adalah kenaikan suhu air laut dan tingkat pencemaran air laut yang tinggi. Kenaikan suhu air laut tentu saja erat kaitannya dengan pemanasan global dan perubahan iklim global.

Fenomena Cabe
Indonesia beberapa waktu belakangan ini mengalami kesulitan akibat kurangnya pasokan cabe yang berdampak pada meroketnya harga komoditi tersebut di pasaran. Padahal cabe adalah salah satu bahan makanan konsumsi harian masyarakat Indonesia. Fenomena ini terjadi akibat gagal panen karena kerusakan tanaman cabe yang disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu. Belum lagi hama jenis tertentu, seperti halnya ubur-ubur di lautan, dapat berlipat ganda populasinya akibat perubahan cuaca sehingga merugikan pertanian cabe. Hingga saat ini lembaga penelitian tanaman pangan di IPB Bogor tengah mengembangkan varian baru tanaman cabe yang relatif lebih tahan terhadap cuaca yang tidak ideal, namun sayangnya untuk sementara waktu belum ada varian cabe tahan cuaca yang dapat diproduksi massal untuk memenuhi tuntutan pasar

Kita dan Perubahan Iklim
Perubahan iklim berdampak luas bagi manusia. Perubahan iklim mengakibatkan perubahan ekosistem, pergeseran cuaca dan musim. Beberapa hal yang kemudian menjadi dampak dari perubahan ekosistem, pergeseran cuaca dan musim adalah: krisis pangan akibat gagal panen dan serangan hama yang tidak terkontrol, epidemi penyakit akibat meningkatnya perkembangbiakan vektor penyebar penyakit, gangguan terhadap ekosistem laut dan pantai serta kerusakan infrastruktur tepi laut akibat kenaikan muka air laut, bencana alam seperti banjir dan kekeringan berkepanjangan akibat ketidakseimbangan musim basah dan kering, kehilangan keanekaragaman hayati, dan lain sebagainya.

Banyak dari hal yang disebutkan di atas telah terjadi, banyak yang di antaranya telah kita alami namun tidak kita sadari kejadiannya sebagai manifestasi dari peningkatan panas bumi dan perubahan iklim global. Peningkatan suhu udara sendiri kemudian menjadi seperti lingkaran api besar yang tidak dapat kita padamkan karena kita berada di pusat lingkaran tersebut dan tidak punya akses untuk keluar. Akibat kenaikan suhu udara kita lalu memilih untuk lebih sering berada di dalam ruangan berpendingin ruang (air conditioner) yang di-set pada dingin maksimum, hal serupa akan kita lakukan bila bepergian menggunakan mobil. Tanpa kita sadari kebiasaan ini akan menambah beban pendinginan yang berarti meningkatkan konsumsi bahan bakar dan mempertinggi laju emisi karbon ke udara yang efeknya justru makin membuat bumi semakin panas lalu kita pun lagi-lagi meninggikan beban pendingin ruangan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Lalu apa yang dapat kita lakukan?
Banyak orang beranggapan bahwa kondisi ini tidak akan berubah secara signifikan bila tidak didukung dengan political will yang positif dari para pemimpin dunia dan para pembuat kebijakan. Namun menurutku banyak hal sederhana yang bisa mulai kita lakukan sekarang, dimulai dari rumah dan lingkungan kita sendiri, tentunya akan lebih baik bila dapat dilaksanakan bersama-sama dengan komunitas kita secara bergotong-royong, misalnya dengan memperbanyak penanaman pohon di lingkungan rumah dan tempat tinggal. Kehadiran pepohonan akan membantu menurunkan suhu mikro, dalam jumlah yang memadai tentunya pohon akan membantu mereduksi beban pendingin ruangan dan menekan jumlah emisi karbon ke udara. Beberapa waktu yang lalu aku pernah menulis tentang manfaat pohon, mungkin bisa dicek di: http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2010/12/bukan-sekedar-pohon.html

Mari bertindak sekarang juga!

Sheffield . 18 Januari 2011


*


Wed | February 9, 2011
Baru nemu artikel di The Telegraph UK tentang pernyataan Pangeran Charles mengenai Climate Change dan hubungannya dengan desakan pertumbuhan ekonomi. Bagus! The Prince of Wales itu juga mengemukakan pendapatnya tentang berbagai alternatif yang dapat dilakukan untuk menekan laju emisi karbon.
Berita lengkapnya bisa diakses di:
http://www.telegraph.co.uk/earth/environment/climatechange/8313302/Climate-change-fuelled-by-pursuit-of-economic-growth-says-Prince-of-Wales.html

Bisa dibaca juga artikel yang ditulis oleh Brigitta Isworo Laksmi tentang Earth Hour 60+ di Kompas.com sebagai bahan bacaan pendukung. Artikel tersebut bisa diakses di:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/14/04325310/memadamkan.lampu.sejam.dan.gaya.hidup

Thursday, 19 November 2009

Cerita Yahwa

"Cerita Yahwa" adalah petikan obrolan saya, dan seorang teman (bernama: Isma) anggota tim Pelatihan Penelitian Perubahan Iklim dan Kemiskinan, dengan seorang tokoh masyarakat di Kampung Iboih, Sabang.

Obrolan lapangan ini awalnya direkam dalam bentuk audio, yang lalu saya transkrip dan transformasikan ke dalam tulisan sederhana. Diskusi kami dengan Yahwa dilakukan pada garis waktu yang berdekatan dengan tulisan saya yang bertajuk "Pembangunan untuk siapa?"yang bisa diakses di:http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2009/11/pembangunan-acakadut.html


Iboih – Teupin Layeu | Kamis, 5 November 2009 | Pukul 16-an (sore) hingga selesai


Profil Tokoh dan Sejarah Singkat Kampung

Ini adalah rekaman wawancara dengan Bapak Ishak Idris (oleh masyarakat setempat beliau akrab dikenal sebagai: Yahwa), mantan Panglima Laot Iboih, berusia 73 tahun. Yahwa pernah menjabat sebagai Panglima Laot di wilayah Iboih selama lebih kurang 35 tahun. Beliau kemudian secara bersamaan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Panglima Laot, kepala lingkungan dan tuha peut karena merasa sudah tua, cepat letih dan tidak lagi mampu menangani terlalu banyak masalah komunal dalam waktu bersamaan. Walaupun mengaku buta aksara namun karisma Yahwa membuat pemerintah lokal mengangkatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil yang saat ini telah memasuki masa pensiun dan senioritas beliau di bidangnya membuatnya masih terlibat dalam upaya-upaya penegakan konservasi lingkungan laut di wilayah Iboih hingga saat ini.


Yahwa bersemangat menceritakan pengalaman hidupnya kepada kami
(Photo credit: Iin RZ)

Yahwa adalah satu dari sekitar 15 KK yang saat ini mendiami kampung Iboih di wilayah Teupin Layeu yang berbatasan langsung dengan laut dan pantai. 15 KK yang bermukim di Teupin Layeu adalah keluarga yang tersisa dan memilih untuk menetap di kawasan ini, tidak pindah bersama keluarga lain dalam program relokasi kampung yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah (Pemkot Sabang) pada sekitar tahun 1997.

Relokasi warga Teupin Layeu yang dilaksanakan sekitar tahun 1997 tersebut bertujuan untuk menghindarkan generasi muda kampung wisata laut itu dari ancaman degradasi sosio-kultural di lingkungan wisata yang cenderung rentan terhadap infiltrasi budaya asing (western). Sebagian besar warga bersedia dipindahkan ke kampung baru bernama Lamnibong yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Teupin Layeu. Di kampung baru tersebut warga diberikan sebidang tanah beserta rumah tinggal yang dibangun dengan material kayu/papan. Hanya beberapa KK saja yang tidak ikut pindah, yang menurut keterangan seorang warga lokal, mereka tidak pindah karena memiliki usaha yang sudah berkembang di Teupin Layeu.

Cerita Yahwa

Yahwa, yang sejak usia 16 tahun sudah menjadi nelayan pemancing ikan ini, menjelaskan bahwa perubahan musim angin Timur mulai dirasakan terjadi di wilayah ini sejak tahun ini (2009). Angin Timur biasanya terjadi pada bulan Desember hingga April sedangkan Angin Barat biasanya mulai berhembus pada bulan Mei hingga November. Namun tahun ini angin Timur sudah mulai berhembus sejak awal bulan November dan sulit diprediksikan akan berlangsung selama berapa lama. Perubahan angin berpengaruh pada perubahan arus laut dan suhu air laut yang kemudian berdampak pada pola migrasi ikan dan hasil tangkapan. Beliau menambahkan bahwa bila suhu air laut rendah (dingin) maka hasil tangkapan cenderung sedikit, sedangkan bila suhu air laut hangat nelayan cenderung bisa menangkap ikan dalam jumlah yang lebih besar. Yahwa memperkuat dugaan akan terjadinya perubahan dengan menyatakan bahwa hasil tangkapan ikan (jenis Geureugak, ikan mata merah, bilis) tahun ini juga mengalami penurunan. Beliau menjelaskan bahwa akan sulit menemukan ikan-ikan besar (jenis tongkol, tuna) bila populasi ikan-ikan kecil mengalami penurunan di wilayah perairan tempat mereka biasa memancing ikan.

Dari wawancara kami dengan Yahwa, beliau menjelaskan bahwa masyarakat di wilayah Teupin Layeu ini tidak menggantungkan pendapatan keluarganya hanya dari hasil tangkapan ikan laut. Sebagian besar penduduk mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan utama yang biasanya aktifitasnya dilakukan pada siang hari, sedangkan aktifitas memancing ikan dilakukan pada malam hari. Penghasilan dari aktifitas pariwisata diperoleh melalui penyewaan perahu kepada pengunjung yang digunakan untuk menyeberang ke Pulau Rubiah, dengan tarif Rp150.000/trip (pulang-pergi), atau disewakan untuk para pemancing ikan dari luar daerah. Menurut Yahwa rata-rata warga Teupin Layeu memiliki boat/kapal kecil untuk melayani penyeberangan ke Pulau Rubiah. Boat-boat tersebut merupakan modifikasi dari boat fiber bantuan tsunami yang ditambahi 2 baris tempat duduk yang berhadapan dan diberi atap untuk kenyamanan penumpang boat. Boat-boat bantuan tsunami tersebut mereka beli dari nelayan lain yang mendapat program bantuan misalnya di Banda Aceh. Yahwa berpendapat bahwa boat-boat fiber tersebut lebih tahan lama dibandingkan boat kayu tradisional yang biasanya mereka buat sendiri. Boat kayu cenderung rentan terhadap serangan hama kayu yang membuat boat cepat bocor, sedangkan boat fiber lebih kuat dan tidak terancam hama. Kebocoran pada boat fiber hanya terjadi bila pengemudi boat tidak berhati-hati sehingga boat bersinggungan dengan karang.


Dermaga sandaran perahu penyeberangan ke Pulau Rubiah
(Photo credit: Iin RZ)

Yahwa menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir pengunjung/turis domestik (dari Jakarta, Medan, Banda Aceh, dsb.) jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan turis manca negara. Selain dari penyewaan perahu, pemasukan warga lokal juga diperoleh melalui bisnis penginapan dan warung. Namun saat ini ada banyak pihak dari luar Teupin Layeu yang ikut meramaikan bisnis penginapan di kampung ini dengan fasilitas dan pelayanan yang menurut Yahwa jauh lebih baik dibandingkan dengan usaha yang dikelola oleh warga lokal. Kondisi ini ditambah dengan ketidakmampuan warga lokal untuk memperbaiki mutu pelayanannya (misalnya menjaga standar kebersihan dan keramahtamahan) membuat usaha milik warga lokal sulit bersaing.

“Dulu orang asing yang datang kesini mau menginap di penginapan punya orang kampung karena tidak ada pilihan. Sekarang mereka sudah punya pilihan karena banyak orang dari luar kampung yang membuka usaha penginapan di sini, tentu saja mereka memilih penginapan yang lebih bersih dan bagus.”


Turis asing tengah menikmati suasana pantai di Iboih
(Photo credit: Iin RZ)

Menurut Yahwa tidak pernah ada program atau penyuluhan lapangan dari Dinas Pariwisata untuk peningkatan kualitas pariwisata di wilayah tersebut. Yahwa menambahkan bahwa karakter masyarakat kampung Teupin Layeu ini “keras” dan tidak ramah karena mereka berpendidikan rendah. Rata-rata warga berpendidikan tertinggi tingkat SLTA.

Yahwa berpendapat hingga saat ini warga di permukiman tersebut belum terpengaruh atau belum terganggu oleh kenaikan muka air laut, pasang air laut, maupun banjir. Rumah-rumah di wilayah perkampungan yang terlihat tinggi atau ditinggikan sekitar 1 meter dari tanah adalah merupakan tanggapan terhadap kontur perkampungan yang berbukit atau menanjak dari pantai ke gunung. Peningkatan level lantai di bagian depan rumah/bangunan adalah upaya untuk menghindari genangan air di lantai akibat run-off dari wilayah gunung di belakang rumah bila terjadi hujan. Selain pantai dan laut, kampung Iboih juga dibentuk oleh kawasan hutan, perkebunan (kelapa dan cengkeh) dan tambak.

Sumber air bersih di Teupin Layeu adalah 1 buah sumur komunal yang dulunya diupayakan penggaliannya oleh seorang ulama (Yahwa menyebutnya dengan sebutan “aulia”) dari Banda Aceh. Di sekitar sumur tersebut dibangun 2 buah cubicle (peturasan) masing-masing untuk perempuan dan laki-laki. Volume air di sumur ini cenderung stabil, namun setiap rumah tangga harus mengangkat air untuk kebutuhan harian rumah tangganya dari sumur ini ke rumah masing-masing dengan menggunakan timba. Yahwa sendiri sekarang sudah memiliki sumur sendiri di rumahnya, biaya pembuatan sumur tersebut tergolong besar dan menghabiskan danasekitar Rp4.000.000 dengan kedalaman mencapai 19 buah munjeng atau cincin sumur. Tinggi permukaan air sumur rata-rata adalah sedalam 3 cincin sumur dari permukaan. Dengan kondisi sumur yang terbuka atau tidak diberi tutup dan atap, volume air sumur bisa mengalami penambahan bila terjadi hujan. Menurut Yahwa rasa air sumur cenderung tawar atau tidak sadah (istilah lokal “lagang”: menggambarkan rasa air tawar yang sedikit asin karena mengandung garam). Ketika terjadi tsunami 2004 air sumur komunal tersebut sempat tercemar oleh air laut yang dibawa gelombang tsunami ke daratan namun kemudian warga membersihkan sumur dengan cara manual, yaitu menguras seluruh air sumur dengan menggunakan timba hingga air sumur bersih kembali.

Persampahan telah ditangani oleh Pemkot Sabang, sekitar 2 kali dalam seminggu truk sampah masuk ke lokasi permukiman untuk mengumpulkan sampah warga. Tidak ada mekanisme khusus untuk pemilahan sampah organic dan non-organik serta tidak ada pihak yang khusus datang untuk mengumpulkan plastic bekas kemasan air mineral.

Sebagaimana telah disebutkan di bagian “Profil Tokoh dan Sejarah Singkat Kampung di atas, bahwa sebagian warga kampung ini telah menjalani proses relokasi pada sekitar tahun 1997, Yahwa menjelaskan alasan beliau dan keluarganya tidak ikut pindah ke Lamnibong adalah karena menurutnya kampong baru tersebut jauh dari pantai.

“Alat transportasi Saya ya kaki Saya ini. Sesekali pada pagi hari Saya berkunjung ke Lamnibong untuk ngopi, tapi setelah itu Saya kembali ke Teupin Layeu. Susah kalau tinggal di sana, kalau Saya ada janji jam 4 harus ke Teupin Layeu dengan berjalan kaki dari Lamnibong ke sini [Teupin Layeu] bisa-bisa jam 5 Saya baru sampai di sini.”

Selain masalah transportasi, menurut Yahwa pikiran beliau tidak bisa berkembang dan terbuka bila tinggal di Lamnibong. Yahwa menambahkan bahwa sebagian besar warga yang pindah ke kampong baru tersebut adalah warga yang sejak dulu memang tidak memiliki rumah (keluarga/pribadi) di Teupin Layeu, sedangkan keluarganya memiliki sertifikat tanah hak milik yang resmi dari agraria (Badan Pertanahan Negara).

Dalam diskusi kami yang mengaitkan antara dampak pemanasan global terhadap mencairnya es di kutub dan pengaruhnya terhadap kenaikan muka air laut, Yahwa berpendapat bahwa cairnya es di kutub hanya akan berpengaruh terhadap ketinggian air laut di sekitar wilayah Eropa. Pemahaman beliau adalah dengan perbedaan suhu antara wilayah Utara yang dingin dengan Aceh di bagian Selatan bumi yang panas, air yang berasal dari es yang mencair tersebut tidak akan sempat mencapai wilayah perairan Aceh karena terlanjur menguap (dalam perjalanan) akibat panas matahari.

Yahwa menunjukkan pemahaman yang memadai mengenai konsep konservasi terumbu karang dan kaitannya terhadap populasi ikan dan komoditi pariwisata andalan setempat yaitu taman laut. Menurut Yahwa sebagian besar warga Iboih berkomitmen tinggi untuk menjaga ekosistem laut dan menangkap ikan hanya dengan menggunakan pancing (benang pancing dan kait/mata pancing), karena mereka paham bahwa bila wilayah taman laut tersebut rusak maka tidak akan ada lagi pengunjung (di wilayah setempat lazim disebut sebagai “tamu”) yang datang ke lokasi itu yang tentunya akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat lokal. Yahwa juga sempat menyebutkan bahwa Pulau Rondo yang berada di sekitar perairan Pulau Wehmerupakan wilayah transit tetap berbagai jenis ikan yang bermigrasi. Namun demikian selalu ada saja pihak-pihak dari luar kawasan yang tidak menghormati tatanan ini dan berupaya menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak dan jala. Yahwa menyebutkan sudah berkali-kali beliau berhasil menangkap para pelaku pengrusakan tersebut dan banyak di antaranya yang kemudian dikenakan sanksi denda antara Rp5.000.000 hingga Rp10.000.000.

Yahwa berpendapat bahwa sebenarnya tidak sulit menjaga kawasan laut dari para pelanggar hukum [konservasi] karena saat ini teknologi telekomunikasi sudah berkembang pesat. Setiap warga atau pelaut yang melihat adanya pelanggaran di wilayah laut bisa dengan mudah menghubungi pihak berwenang dengan menggunakan telepon selular namun masalah utama di lapangan adalah seringkali pelaku pelanggaran memperalat warga lokal untuk kepentingan mereka sehingga hal ini mempersulit upaya penegakan hukum di lapangan.

Kesimpulan

Dari hasil wawancara kami dengan Yahwa kami berkesimpulan bahwa Yahwa adalah tokoh masyarakat yang berpengaruh tidak hanya dalam lingkungan masyarakat adat tetapi juga disegani oleh aparat pemerintahan lokal. Jiwa kepemimpinan yang beliau miliki adalah kombinasi yang menarik antara karakter pribadi dan pengetahuan yang berkembang secara alami melalui pengalaman lapangan selama puluhan tahun. Walaupun tidak mengenal tulis-baca, namun Yahwa sangat memahami konsep konservasi lingkungan laut dan bersama-sama masyarakat adat nelayan berjuang mempertahankan kelestarian taman laut di sekitar Iboih dari ancaman pengrusakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan hasil perbincangan selama sekitar 2 jam-an tersebut kami juga berkesimpulan bahwa warga lokal belum merasakan adanya perubahan yang signifikan dari ketinggian muka air laut. Perubahan juga belum terjadi pada volume air sumur. Warga lebih merasakan adanya perubahan pola angin yang mulai terjadi tahun ini yang berpengaruh terhadap pola arus laut dan migrasi/populasi ikan. Selain itu penurunan jumlah hasil tangkapan nelayan mungkin saja terjadi akibat kerusakan ekosistem bawah laut, misalnya kerusakan terumbu karang, sehingga populasi ikan di wilayah sekitar lokasi survey mungkin menurun akibat degradasi lingkungan. Kemungkinan lain yang membutuhkan penelitian lebih lanjut yang akurat adalah hubungan antara kenaikan suhu udara dengan kenaikan suhu air laut dan kerusakan terumbu karang, karena kenaikan suhu air laut juga memungkinkan terjadinya kerusakan terumbu karang, misalnya seperti yang dikenal sebagai proses “bleaching” yaitu perubahan warna terumbu karang menjadi putih (biasanya terjadi secara massal) yang merupakan salah satu indikator kenaikan suhu air laut.


Contoh fenomena coral-bleaching


Skema proses terjadinya coral-bleaching


*Catatan Khusus:

Terumbu karang (coral) hidup bersimbiosis dengan sejenis alga laut yang sangat kecil yang disebut sebagai zooxanthellae. Terumbu karang melindungi zooxanthellae dari pemangsanya dan sebaliknya zooxanthellae yang merupakan produsen makanan akan memberikan sisa produksi makanannya bagi terumbu karang sebagai bekalnya hidup dan bereproduksi. Zooxanthellae mensuplai sekitar 90% energi yang dibutuhkan terumbu karang untuk bertahan hidup.

Coral Bleaching adalah proses lepasnya zooxanthellae dari karang induk-nya akibat kenaikan suhu air laut. Hal ini dapat terjadi bila kenaikan suhu air laut mencapai antara 1.5 sampai dengan 2 derajat dari suhu normal habitat terumbu karang dan berlangsung antara 6 sampai 8 minggu. Zooxanthellae, selain sebagai pensuplai makanan bagi terumbu karang juga merupakan "pengisi warna" yang menghasilkan warna-warni pada kelompok terumbu karang, sehingga ketika zooxanthellae meninggalkan karang induknya maka warna yang akan muncul adalah putih yang merupakan warna tulang si karang tersebut. Proses "pemutihan" inilah yang kemudian disebut sebagai "bleaching".


**Catatan Kaki:

Panglima Laot adalah sebutan bagi Pimpinan Masyarakat Adat Nelayan di Aceh.