Showing posts with label polusi. Show all posts
Showing posts with label polusi. Show all posts

Saturday, 19 February 2011

9 Kota Penyumbang Emisi Karbon dan Metan Terbesar di Dunia

Sebuah artikel di website National Geographic yang dirilis pada 9 Februari 2011 lalu mengemukakan hasil sebuah studi emisi gas polutan yang dilakukan di 100 kota dari 33 negara di dunia. Studi yang merupakan kolaborasi riset antara World Bank dengan The University of Toronto ini menyebutkan 9 kota di dunia yang merupakan kota paling berpolusi yaitu:

1. Rotterdam - Belanda
Rotterdam menghasilkan total emisi karbon dioksida dan metan rata-rata 29,8 ton per warga per tahun yang mayoritas merupakan hasil dari aktifitas pelabuhan yang berupa gas buangan bahan bakar kapal dan industri.

Port of Rotterdam 
(Image source: www.ordons.com via google)

2. Austin, Texas - Amerika Serikat
Austin berada di urutan kedua sebagai kota paling berpolusi dengan emisi karbon dan metan yang mencapai sekitar 24 ton per penduduk per tahunnya yang merupakan polusi yang dihasilkan oleh sektor konsumsi yaitu tingginya tingkat penggunaan kendaraan bermotor milik pribadi.

Austin, Texas - USA 
(Image source: michaelpaynespictures.blogspot.com via google)


3. Denver, Colorado - Amerika Serikat
Denver menghasilkan emisi gas polutan sebanyak rata-rata 21,5 ton per warga per tahunnya yang diperoleh dari aktifitas harian warga kotanya. Jumlah ini merupakan dua kali lipat dari total emisi New York yang 'hanya' mencapai sekitar 10,5 ton per warga per tahun. Gas polutan di Kota Denver juga disumbang oleh beberapa pembangkit listrik yang masih menggunakan sumber tenaga dari bahan tambang batu bara.

Denver, Colorado - USA
(Image source: www.bylandwaterandair.com via google)


4. Washington DC - Amerika Serikat
DC berada di urutan keempat dengan total emisi CO2 dan metan mencapai sekitar hampir 20 ton per kapita per tahun yang sebagian besar merupakan emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

Washington DC - USA 
(Image source: kenlevine.blogspot.com via google)


5. Minneapolis, Minnesotta - Amerika Serikat
Serupa dengan Denver dan DC, Minneapolis juga menghasilkan emisi karbon dan metan yang tinggi dari pembangkit listrik tenaga batu baranya dengan jumlah rata-rata sekitar 18 ton per penduduk per tahun.

Minneapolis, Minnesotta - USA
(Image source: www.aerialarchives.com via google)


6. Calgary - Canada
Calgary berada di urutan keenam dengan jumlah emisi yang menyerupai Minneapolis yaitu sekitar 18 ton per orang per tahun yang juga merupakan buangan dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

Calgary - Canada 
(Image source: www.canadianhomestayagency.com via google)


7. Menlo Park, California - Amerika Serikat
Kendati memiliki sumber pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan Denver, DC dan Minneapolis, namun Menlo Park/California menduduki peringkat 7 dunia sebagai kota pensuplai karbon dan metan terbesar dengan jumlah rata-rata 16 ton per orang per tahun yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar minyak pada kendaraan bermotor.

Menlo Park, California - USA 
(Image source: www.cswst2.com via google)


8. Dallas, Texas - Amerika Serikat
Penduduk Dallas menghasilkan sedikitnya 15 ton karbon dan metan per tahunnya.

Dallas, Texas - USA
(Image source: www.skyscraper.com via google)


9. Stuttgart - Jerman
Stuttgart mengemisi sekitar 12 ton karbon dan metan per penduduk per tahunnya sebagai hasil aktifitas industri kota.

Stuttgart - Germany
(Image source: www.flickr.com via google)

Studi di atas mengukur tingkat emisi karbon rata-rata yang dihasilkan dari aktifitas produksi dan konsumsi. Ada beberapa kota yang memiliki emisi tinggi sebagai hasil aktifitas industri, seperti misalnya Shanghai dan Beijing, namun konsumsi energi oleh warga kota yang efisien menghasilkan emisi karbon dan metan yang sangat rendah. Hal ini mampu membuat jumlah total emisi gas polutan di Shanghai dan Beijing lebih rendah dibandingkan kota lainnya yang menjadi objek pada studi ini. 

Para peneliti menyebutkan bahwa desain dan tata letak (layout) kota memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat emisi karbon yang dihasilkan warga kotanya. Kota dengan sebaran wilayah permukiman yang melebar membuat tingkat efisiensi penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor sangat rendah, penduduk dengan jenis sebaran kota jenis ini cenderung menggantungkan pergerakan dan transportasinya kepada kendaraan bermotor pribadi. Sedangkan kota yang compact dengan tingkat kepadatan tinggi yang mengharuskan warga beraktifitas dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan umum akan mampu membantu menekan laju emisi gas polutan dari sektor konsumsi.

Hal ini pula yang membuat tingkat emisi karbon dan metan kota-kota di Eropa cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kota-kota di Amerika Serikat. Kota-kota di Eropa cenderung bersifat compact, dengan kepadatan tinggi dan sebaran kota (urban sprawl) yang terbatas. Sedangkan kota-kota di Amerika Serikat cenderung memiliki sebaran kota melebar ke arah suburban dengan kawasan permukiman baru yang dikembangkan bagi warga kota yang cenderung tidak menyukai tinggal di kawasan pusat perkotaan yang sibuk, dengan resiko perjalanan menuju lokasi bekerja akan memakan waktu lebih panjang dan konsumsi energi lebih tinggi serta emisi gas polutan lebih besar pula.

Dan Hoornweg, Urban Specialist yang terlibat dalam studi ini juga menyebutkan manfaat lain dari desain kota yang compact adalah bahwa bila seseorang dapat mencapai satu tempat ke tempat lainnya dalam waktu yang lebih singkat selain dapat mendukung efisiensi waktu juga akan mampu meningkatkan tingkat kualitas hidup (the quality of life) orang tersebut. [Hasil studi lengkapnya akan di-publish di jurnal Environment & Urbanization tahun ini]

Dari studi di atas kita dapat melihat bahwa untuk menekan laju emisi karbon dan metan ke udara yang dapat membentuk dampak rumah kaca bagi bumi (yang mengakibatkan pemanasan global!), dibutuhkan berbagai upaya meliputi: desain ruang kota dan perencanaan tata guna lahan yang tepat; penggunaan sumber tenaga listrik ramah lingkungan (seperti sumber hydro, solar dan angin); efisiensi penggunaan listrik pada bangunan dan rumah tinggal; serta efisiensi penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Selain itu cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengimbangi emisi karbon, menyerap polutan dan debu sebagai hasil aktifitas masyarakat modern, serta mengurangi efek urban heat island akibat konsentrasi pembangunan dan kegiatan manusia di wilayah perkotaan adalah dengan bertanam [lebih banyak] pohon! Informasi lain terkait pengaruh pohon terhadap gas polutan bisa dibaca di:
http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2010/12/bukan-sekedar-pohon.html
http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2010/12/trembesi.html

Hasil penelitian Dan Hoornweg dan timnya menyisakan pertanyaan lain bagi saya. Melihat bahwa tidak satupun dari kota-kota yang disebutkan oleh Hoornweg [dan tim penelitiannya] merupakan kota yang berada di kawasan negara berkembang (developing countries), lalu kenapa gembar-gembor konsentrasi pengurangan emisi malah (seolah-olah) dilimpahkan menjadi tanggung jawab negara berkembang?

USA pernah berkeras tidak mau menandatangani perjanjian Kyoto kalau negara-negara berkembang tidak 'dipaksa' membatasi emisi karbon-nya (baca di: http://www.americans-world.org/digest/global_issues/global_warming/gw3.cfm).

Lalu dibentuk program-program khusus untuk negara berkembang, misalnya seperti Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) yang bahkan UN membentuk projek khusus untuk menangani isu ini yaitu UN REDD Programme [http://www.un-redd.org/]. Dalam program seperti REDD ini negara-negara berkembang diberikan insentif untuk mencegah deforestasi dan degradasi hutannya lalu implementasi dan progresnya dimonitor oleh negara-negara maju (terutama oleh negara pemberi dana). Keterlibatan Indonesia di REDD bisa dibaca di: http://acehclimatechange.org/2010/06/30/dana-perubahan-iklim-norwegia-gratis/ dan http://acehclimatechange.org/2010/07/27/badan-pengurangan-emisi-segera-dibentuk/

Bagaimana negara besar seperti USA, yang justru merupakan penyumbang terbesar emisi karbon dan metan (berdasarkan penelitian di atas) mampu 'mengatur' warga negaranya agar merubah gaya hidup penyumbang polusi menjadi lebih bertanggung jawab terhadap seluruh warga dunia lainnya? Lalu bagaimana kita sebagai warga negara berkembang bisa ikut mengawasi progres yang mereka lakukan untuk secara signifikan menekan pengurangan emisi dari negaranya? Mudah-mudahan saya bisa segera memperoleh jawaban untuk kelanjutan tulisan ini :)

Sheffield . 19 February 2011

Artikel Rujukan:
http://news.nationalgeographic.com/news/energy/2011/02/pictures/110209-surprisingly-dirty-cities-science-environment-global-warming-greenhouse/#/gassiest-cities-greenhouse-gas-co2-rotterdam_32050_600x450.jpg

Wednesday, 29 December 2010

Bukan "Sekedar" Pohon


Masih kecewa karena kejadian penebangan pohon-pohon besar di kawasan Darussalam – Banda Aceh, dua hari yang lalu, saya merasa bertanggung jawab untuk memperkaya pengetahuan diri sendiri akan manfaat pohon.

  • Apa benar pohon ya cuma sekedar pohon, yang sejak kecil hingga sekarang saya kenal sebagai tumbuhan bertubuh besar, berdaun (dominan) hijau, memiliki cabang, ranting serta akar yang kuat, yang kalau saya berdiri di bawahnya akan merasa teduh walau sesekali kejatuhan ulat daun, semut merah atau kotoran burung atau kalau sedang sangat apes kejatuhan ular kecil berwarna hijau.. (hiiyy!)
  • Apa mungkin saya merasa sedih hanya karena punya kenangan masa kecil tentang bagaimana saya diajari Kakek bertanam pohon dan senang memanjat pohon di kebun Kakek, bergelayutan di dahan-dahan pohon (yang agak rendah tentunya, hey, saya kan perempuan!) sambil ngemil jambu klutuk atau potongan nenas. 
  • Apa iya saya kesal pohon besar ditebang di kota saya karena itu berarti saya akan kesulitan mencari tempat teduh saat menunggu angkutan umum yang berarti harus rela juga kalau kulit wajah saya akan terekspos sinar matahari? 

Akhirnya, supaya alasan rasa kecewa itu tidak terdengar terlalu self-centred,saya pun mencari ‘kebenaran’ tentang manfaat pohon bagi manusia dengan bantuan Bang-Google. Diskusi di bawah ini akan menyajikan manfaat pohon dan pepohonan dari sudut pandang ekologi, ekonomi dan sosial.

Manfaat Ekologis
Sebatang pohon bekerja memberikan manfaat bagi manusia selama 24 jam sehari, tugasnya meliputi perbaikan kualitas lingkungan sekaligus memperbaiki kualitas hidup manusia yang berdiam di sekitarnya. Di luar dari manfaat estetika yang disuguhkannya pepohonan menyangga kualitas udara dan air, membantu menghemat energi dan mendukung keberlangsungan ekonomi.

Secara ilmiah, pohon terbukti mampu mengurangi kadar karbondioksida (CO2) di udara dengan cara menyerap dan menyimpan karbondioksida di dalam tubuhnya. Pohon menyerap karbondioksida di udara selama proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat bagi dirinya, proses tersebut kemudian melepaskan oksigen ke udara sebagai ‘produk sampingan’ yang justru bernilai positif bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Proses ini dikenal pula dengan istilah carbon sequestration. Hingga saat ini bertanam pohon masih menjadi aktifitas yang paling mudah dan murah yang dapat dilakukan manusia untuk menyerap CO2 dari udara.

Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebatang pohon berusia dewasa mampu menyerap CO2 hingga 21.8kg/tahun sekaligus melepaskan oksigen ke udara yang cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen 2 manusia. Separuh dari seluruh elemen gas pembentuk efek rumah kaca yang memerangkap panas bumi di lapisan atmosfer adalah CO2, efek rumah kaca mengakibatkan suhu permukaan bumi meningkat dan diyakini berdampak utama pada terjadinya perubahan iklim secara global.

Naungan pohon dengan kanopi yang memadai akan mendinginkan bangunan dan lingkungan sekitarnya sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan pendingin ruangan hingga 30%. Berkurangnya penggunaan pendingin ruangan berarti mengurangi kebutuhan akan suplai listrik sekaligus mengurangi kebutuhan bahan bakar berbasis fosil atau minyak bumi yang umumnya masih digunakan sebagai bahan bakar bagi mesin-mesin pembangkit listrik di negara kita. Mengurangi penggunaan bahan bakar minyak pada mesin pembangkit listrik juga berarti mengurangi emisi karbon atau gas rumah kaca! Melihat rantai kejadian di atas maka jelas sekali bahwa pohon adalah ‘alat’ yang efektif untuk mengurangi dampak pemanasan global.

Selain menyerap karbondioksida, pepohonan juga menyerap gas polutan lainnya melalui stomata yang terdapat pada permukaan daun. Gas polutan yang umumnya terdapat di wilayah perkotaan adalah: sulfur dioksida (SO2); ozon (O3); nitrogen oksida (NO2). Polutan-polutan tersebut merupakan produk buangan bahan bakar dari kendaraan bermotor dan industri yang dapat mengakibatkan gangguan pernafasan pada manusia. Sedangkan ozon yang mestinya berada pada lapisan paling atas atmosfer dan berfungsi menyaring sinar UV dari matahari dapat terbawa turun ke permukaan bumi oleh fenomena alam, seperti badai, dan ketika berada di permukaan bumi ozon justru memberi dampak buruk bagi kesehatan manusia. Ozon di sekitar kita juga dihasilkan sebagai produk buangan kendaraan bermotor.

Jalur hijau dengan lebar lebih dari 2m (dua meter) dengan kombinasi pohon dan tanaman rumput bahkan mampu mereduksi polusi debu dari jalan raya hingga 75% (Bhumicara, 2008). Pepohonan di sepanjang tepi jalan juga mencegah refleksi sinar matahari yang menyilaukan pengguna jalan.

Mari kita telusuri manfaat akar pohon, akar pohon berfungsi mengurangi erosi atau penggerusan lapisan atas tanah (topsoil) yang merupakan lapisan yang mengandung konsentrasi unsur organik tertinggi serta habitat mikroorganisme.Topsoil biasanya merupakan campuran pasir, lumpur halus, tanah liat dan humus, yang merupakan media terbaik bagi pertumbuhan tanaman lainnya. Akar pohon menghambat masuknya polutan yang ada di dalam tanah ke jejaring air tanah, dan membantu penyerapan air oleh tanah. Seluruh proses ini menjamin ketersediaan dan kualitas air tanah untuk kelangsungan hidup manusia. Setiap 5% lingkup pepohonan di dalam suatu kawasan mampu mengurangi laju air hujan dan membantu penyerapan air tanah hingga sekitar 2%.

Kawasan yang memiliki banyak pohon besar sebagai peneduh cenderung membuat pengendara kendaraan bermotor akan berkendara dengan kecepatan lebih rendah dibandingkan dengan berkendara di kawasan tanpa pohon. Jalan yang tidak didampingi pepohonan akan terasa lebih lebar atau lapang sehingga pengendara cenderung akan menambah laju kendaraannya yang dapat berakibat pada kecelakaan lalu lintas. Penataan jalan yang baik idealnya menjadikan pepohonan sebagai pembatas di antara kendaraan yang melaju di jalan dengan para pejalan kaki. Selain itu barisan pepohonan di jalan raya dapat dibaca sebagai penanda tikungan atau belokan bagi pengendara kendaraan bermotor sehingga mereka akan melambatkan laju kendaraannya sejak berada pada jarak yang lebih aman.

Dalam konteks pengurangan resiko bencana, pepohonan yang secara kolektif ditanam dengan perencanaan yang benar juga mampu meredam laju angin bahkan gelombang sehingga mampu mengurangi resiko bencana bagi manusia.

Manfaat Ekonomi
Beberapa studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pepohonan memberi dampak bagi kestabilan ekonomi suatu wilayah dengan cara menarik lebih banyak peminat bisnis dan wisatawan. Pengunjung kawasan pertokoan yang dilindungi banyak pepohonan cenderung akan berjalan-jalan dan berbelanja lebih lama dibandingkan dengan kawasan pertokoan yang gersang.

Kawasan permukiman dan perkantoran pun cenderung memiliki tingkat penggunaan (occupancy rate) yang lebih tinggi bila didukung dengan pepohonan yang tertata baik. Bahkan di Amerika Serikat harga jual kembali properti yang berada di lingkungan yang memiliki banyak pepohonan juga lebih tinggi dibandingkan di lingkungan tanpa pepohonan.

Contoh sederhana di tempat kita adalah tempat parkir, tidak seperti Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia yang melayani parkir di dalam gedung, kawasan perkantoran dan pertokoan di Banda Aceh masih mengandalkan parkir di luar ruangan. Dengan teriknya matahari di kota ini tidak heran bila lapangan parkir yang memiliki naungan pohon akan lebih digemari pemilik kendaraan bermotor dibandingkan dengan lahan parkir gersang.

Manfaat Sosial
Pohon memberikan efek relaksasi bagi manusia membuat manusia hidup lebih tenang. Pohon-pohon yang meneduhkan taman kota menciptakan ruang sosial di mana manusia akan datang, berkumpul, bermain bersama keluarga atau teman lalu berinteraksi. Pohon juga menyaring kebisingan, studi oleh Departemen Energi Amerika Serikat menunjukkan bahwa pepohonan secara kolektif mampu mereduksi tingkat kebisingan wilayah perkotaan hingga 50%. Ini berarti bahwa semakin banyak pohon dibiarkan tumbuh besar di kawasan permukiman, maka warga dapat hidup dengan lebih nyaman (bukan begitu?); fungsi pohon sebagai peredam kebisingan mungkin juga menjadikannya elemen yang tepat untuk dibiarkan tumbuh rapat di sekitar sekolah atau kampus sehingga para pelajar bisa lebih berkonsentrasi di ruang-ruang kelas.

Untuk kasus pohon-pohon besar yang ditebang di Darussalam, sebelum ditebang dulu manfaatnya tidak hanya meneduhkan kawasan sekitar dan para pejalan kaki, di bawah pohon juga sering berteduh penjaja makanan kecil yang pelanggan setia-nya biasanya adalah mahasiswa dan pelajar. Selain itu pohon-pohon tersebut juga digunakan untuk berteduh oleh para orang tua dan keluarga yang mengantarkan anggota keluarganya diwisuda pada musim-musim wisuda sarjana di Universitas Syiah Kuala.

Ingin menambah deretan manfaat pohon bagi keluarga dan tetangga? Tanamlah pohon yang menghasilkan buah yang dapat dimakan bersama atau (mungkin juga) untuk dijual.

Setelah mendiskusikan manfaat pohon bagi manusia, saya ingin kembali ke cerita tentang ’peruntungan’ lain yang mungkin diperoleh ketika berteduh di bawah pohon, bahwa mungkin saja kita kejatuhan semut merah, ulat, ular pohon atau kotoran burung, itu berarti bahwa ada makhluk lain selain manusia yang juga menggantungkan hidupnya pada sebatang pohon. Mereka berumah, berdaur hidup dan berkoloni di sana. Lalu bagaimana nasib mereka bila pohon yang ditumpanginya ditebang?

Mengutip refleksi dari blog dnz journal,
Berapa harga yang sanggup kita bayar untuk bisa menghirup oksigen... Seberapa tinggi harga yang sanggup kita berikan untuk bisa menikmati atraksi dan suara satwa. Seberapa besar kesediaan kita membayar untuk menyegarkan pikiran dan emosi kita dengan menikmati pemandangan yang hijau dan alami serta udara yang segar...
Menurut saya semua hal yang disebutkan di atas tidak akan terbeli dengan uang.

Refleksi Penulis
Walau pohon memberikan banyak manfaat bagi manusia dan lingkungan sekitarnya, namun dalam konteks perkotaan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guna menjaga sinergi hubungan antara pohon, manusia dan lingkungan sekitarnya. Selain bahwa jenis pohon yang dapat ditanam di suatu wilayah sangat tergantung pada kondisi geografis dan ekosistem wilayah tersebut, di wilayah perkotaan penanaman pohon harus disertai dengan perencanaan yang tepat dan perawatan yang memadai. Pepohonan besar berusia tua dengan dahan besar yang terjulur ke arah jalan raya dapat membahayakan pengguna jalan karena dahan-dahan pohon memiliki resiko patah karena usia atau cuaca. Perawatan dan pemeriksaan kondisi pohon secara berkala juga dibutuhkan untuk menghindari resiko pohon tumbang. Selain itu dahan dan ranting pohon juga harus diperhatikan agar tidak mengganggu instalasi listrik atau telepon serta tidak menutupi lampu jalan.

Diskusi ini mungkin tidak memberikan solusi praktis terhadap apa yang harusnya dilakukan untuk menyikapi kasus penebangan pohon di Darussalam, karena memang sejak awal tujuan saya adalah untuk memperkaya pengetahuan diri dan meyakinkan diri sendiri bahwa: pohon bukan "sekedar" pohon, kehadirannya di muka bumi bukan untuk semata-mata dihargai sebagai elemen estetis dalam sebuah bentang alam. Pembelajaran pribadi saya terhadap insiden Darussalam adalah bahwa seharusnya kita (terutama yang berprofesi di bidang perencanaan dan perancangan ruang) bisa bersikap lebih arif dalam memaknai kehadiran pohon sebagai salah satu unsur penting bagi tata-kembang ruang.

Namun saya berharap diskusi ini mampu mengurangi (atau jangan-jangan malah menambah!) rasa kecewa saya akibat penebangan pohon di Darussalam – Banda Aceh, dan semoga juga bermanfaat bagi teman-teman semua. Salam hangat!

Sheffield . 20 Desember 2010

Foto-foto dalam tulisan ini adalah milik Masdar Djamaludin. Profil Masdar bisa diakses (atas izin pemiliknya) melalui: http://www.facebook.com/masdarjamal

Untuk memperbesar tulisan, silakan tekan tombol Ctrl dan + secara bersamaan pada keyboard.

Rujukan:
Benefits of Trees in Urban Area, diakses dari http://www.coloradotrees.org/benefits.htm
“The Amazing Benefits of Trees” Video by The Davey Tree Expert Company, diakses dari http://www.youtube.com/watch?v=ungk6x3OfNs
“Social Benefits of Trees” Video by University of MO Columbia, diakses darihttp://www.youtube.com/watch?v=48mADsiIpCo
Bhumicara. 2008. Tanaman dan Pencemaran Udara, diakses darihttp://bhumicara.wordpress.com/2008/05/23/tanaman-dan-pencemaran-udara/
Dnz Journal. 2010. Manfaat Lebih Berharga dari Fisik, diakses darihttp://dnzjournal.wordpress.com/2010/05/27/manfaat-lebih-berharga-dari-fisik/
The Value of Trees, diakses dari http://www.bowthorpetree.com/77.html
Street Trees, diakses dari http://streetswiki.wikispaces.com/Street+Trees
Urban Forestry in Ohio, diakses dari http://www.ohiosaf.org/urban.htm
What is Topsoil Composed of?, diakses darihttp://www.ehow.com/about_6302808_topsoil-composed-of.html


Catatan:
Masalah penebangan pohon di kawasan Darussalam – Banda Aceh ternyata terkait dengan masalah yang lebih besar yaitu proyek (amburadul) pembangunan drainase yang didanai dan diawasi konsultan asing, yang saat ini tengah diancam Citizen Law Suit karena dianggap telah merugikan masyarakat. Untuk berita lengkapnya silahkan klikhttp://www.serambinews.com/news/view/45058/warning-untuk-pengawas-dan-kontraktor-kakap dan http://www.serambinews.com/news/view/45057/terbuka-peluang-menggugat