Showing posts with label indonesian poem. Show all posts
Showing posts with label indonesian poem. Show all posts

Wednesday, 15 April 2009

Gerhana

”Tak seorangpun ingin menjemput gerhana,” katamu.

Memburai kisah yang tengah kurajut diam-diam

ketika waktu yang sesekali luang kita tuang di beranda.

Kau lukis sepotong bulan yang sempurna di matamu,

tanpa carut-marut luka dan sejarah.

Sepi yang merambat naik di kusen jendela malam itu

meminjamkan bulan-mu untukku bercermin,

padanya Aku selesaikan sebuah monolog:

”Aku telah berdamai dengan sejarah.

Sepasang sayap telah kupesan pula dari Bintang Utara.

Pernahkah Aku mengenalkan Musim pada-mu,

sahabatku yang lincah menabuh perubahan itu?

Sesaat nanti, Dia akan menjemputku

untuk membentang lanskap di sepanjang benua,

menabur mimpi ke setiap anak sungai.

Betapa akan kurindu aroma padi dan daun kuda-kuda

dari seberang halaman.

Dan ketika Kau merindukanku,

mungkin sepotong bulan yang Kau simpan di saku-mu

telah menjelma gerhana.”


Btj - 05.Jan.2008

Seorang Sahabat, Pasangan Jiwa

Angin di Taman Devonshire menggigit ujung-ujung jubah kita
ketika aku tiba-tiba ingin berhenti menikmati bulan.

“tapi ini terlalu dingin,” katamu.
“tapi aku ingin menikmati purnama,” sahutku.

Dan kau menurut saja, seperti biasa, tidak kelelahan dengan segala kerumitan pikiranku.

“malam ini dingin, berikan aku sebuah kecupan saja, agar aku tau aku harus tinggal”
“tidak”
“kenapa?”
“tanpa alasan”
“kau bahkan berselingkuh di depanku, dengan purnama itu. O, betapa cemburunya aku!”
“aku sedang tidak ingin mencium mu, itu saja”

“aku akan melakukannya bila aku ingin, nanti”

Dan kau tetap menggenggam tanganku, si gadis pengagum purnama.

Seperti biasa, tidak kelelahan dengan segala kerumitan pikiranku.
Kau selalu mengerti, senantiasa melengkapi.

Bagiku kau pasangan jiwa, karena denganmu aku bebas berkata-kata.

“beritahu aku bila kau sudah selesai,” katamu sembari menghitung bola-bola baja penghalang skater remaja merusak mosaik yang lekat di dinding kurva. Malam ini tidak ada merpati-merpati urban yang biasanya kau beri makan remah-remah sarapan pagi-mu.

Entah bagaimana aku tau, kau belum akan bosan menungguku.
Seperti cukupnya kau bagiku: seorang sahabat, pasangan jiwa.

Wellington Street, 13 November 2008.