Pagi tadi aku sempat senyam-senyum sendiri mendengar percakapan dua anak laki-laki kecil, masing-masing 8 & 7 tahun, di kamar mandi di flat kami yang hangat.
"Abang, emangnya Abang suka ya sama bau-nya sabun yang ini? Ini kan bau-nya euww.." kata si kecil memancing debat.
"Iya, Abang suka, Dek" jawab yang lebih besar.
"Kok Abang bisa suka sih? Isshh.. bau-nya kan kayak racun!" balas si kecil lagi dengan nada provokatif.
"Iya, tapi Abang suka. Adek ingat gak waktu kita makan durian rame-rame, Adek bilang bau durian itu enak kan? Padahal menurut Abang nggak. Abang gak suka bau-nya durian.." jawab si Abang bijak.
"... Adek tau kenapa?" sambungnya lagi, "itu karena orang-nya beda. Setiap orang itu beda-beda, Adek boleh aja suka apa yang Abang gak suka, Abang juga boleh sebaliknya."
Hmmm.. menurutku ini jawaban yang sangat demokratis (plus diplomatis?). Ini adalah pendidikan demokrasi sederhana yang disampaikan oleh anak kecil berusia 8 tahun di dalam sebuah kamar mandi!
Dan sepertinya jawaban si Abang cukup bisa diterima oleh si Adek yang tidak lagi terdengar memperpanjang argumennya :))
Sheffield . 16 Maret 2010
The greatest discovery of my generation is that a human being can alter (her) life by altering (her) attitude [William James]
Showing posts with label Pendidikan Dasar. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Dasar. Show all posts
Wednesday, 16 March 2011
Sunday, 6 February 2011
Budaya Mendidik
Namanya Rayhan, anak laki-laki berusia sekitar 8 tahunan. Perawakannya sedikit lebih besar dari kebanyakan teman sekelasnya dan dia segera menarik perhatianku karena wajah dan penampilannya yang tergolong menarik untuk anak seusianya. Rayhan adalah salah satu murid-ku di sebuah Sekolah Dasar di pinggiran Kota Banda Aceh di mana aku sempat berbagi sedikit waktu menjadi relawan mengajarkan mata pelajaran Bahasa Inggris.
Menurut guru wali kelasnya Rayhan adalah anak yang bandel sehingga walaupun tubuhnya agak besar dia didudukkan di bangku barisan depan di dalam kelas. Pernah suatu ketika aku mendengar cerita dari teman sekelasnya bahwa Rayhan divonis oleh wali kelasnya kalau sudah besar akan menjadi preman karena kenakalannya mungkin sudah mencapai ambang batas kesabaran si guru.
Rayhan kecil kemudian menjadi tantangan juga buatku. Kali pertama aku masuk ke kelas itu kami hanya belajar lafal abjad dan angka, tidak ada latihan dalam bentuk tulisan hanya belajar mengucap dengan benar dan berulang-ulang sambil sesekali diselingi cerita. Di minggu kedua, aku mulai memberikan latihan menulis. Rayhan yang duduk di deretan depan dengan cepat tertangkap mata olehku bahwa sementara teman-temannya menulis dia malah sibuk mengganggu teman-teman di sekelilingnya. Aku datangi Rayhan ke bangkunya dan bertanya kenapa dia tidak menulis, dengan ringan dia menjawab bahwa dia tidak membawa buku tulis. Aku tidak kehilangan akal, aku mengambilkan Rayhan selembar kertas kosong lalu memintanya menulis di kertas itu. Ketika jam pelajaran selesai dan teman-temannya mulai mengumpulkan tulisan, kulihat Rayhan tidak juga beranjak dari bangkunya. Kembali aku datangi dia dan menanyakan hasil pekerjaannya, betapa terkejut sekaligus merasa geli melihat kertas yang aku berikan padanya sudah berubah menjadi pesawat kertas! Tapi aku tidak mempermasalahkan kertas yang sudah bertransformasi menjadi pesawat itu, aku hanya berpesan padanya bahwa lain kali dia sebaiknya membawa buku tulisnya agar bisa berlatih menulis seperti teman-temannya yang lain,
"...kalau Rayhan gak mau ngerjain latihan, nanti Ibu bingung mau kasih nilai apa buat raport Rayhan" begitu ujarku. Dan dia hanya diam saja.
Pertemuan ketiga. Sebelum pelajaran dimulai, ketika aku baru saja melangkahkan kaki ke dalam kelas, aku sempat mencuri dengar percakapan Rayhan bersama teman-temannya di bangku deretan depan, sekilas mereka sepertinya tengah mendiskusikan tentang Michael Jackson. Aku sempat melihat Rayhan memegang bungkus CD bergambar Michael Jackson. Lalu pelajaran pun dimulai. Lagi-lagi, Rayhan tidak terlihat berminat mengerjakan latihan yang kali ini aku berikan dalam bentuk lembaran kertas bergambar untuk diisi oleh anak-anak. Aku kembali mendatangi Rayhan ke bangkunya,
"Rayhan, suka musik ya?" tanyaku
Dia terlihat terkejut sekaligus senang mungkin karena ternyata pertanyaanku bukan seputar pelajaran yang sedang berlangsung.
"Iya" jawabnya singkat
"Siapa penyanyi yang Rayhan suka?"
"Michael Jackson" jawabnya dengan mata berbinar senang.
(Bingo! seruku dalam hati)
"Wah, Ibu juga suka sama Michael Jackson! Rayhan suka lagu apa?"
Demikian lah diskusi kami lalu berlanjut selama beberapa saat membicarakan top hits nya Michael Jackson. Dia mengaku kalau dia mengoleksi CD Michael Jackson di rumah dan dia masih terheran-heran ternyata ada juga lagu Michael Jackson yang aku sebutkan yang dia belum tau.
*
Tadi malam aku baru menonton rekaman talk show terbaru Kick Andy melalui website Metro TV yang membahas tentang trend kehidupan seks anak dan remaja yang semakin mengerikan di Indonesia. Salah satu narasumber ahli yang dihadirkan adalah psikolog dan peneliti terkenal Indonesia, Ibu Elly Risman. Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran dari tayangan itu dan kemudian mengingatkanku kepada Rayhan yaitu bahwa anak-anak membutuhkan pengakuan terutama dari orang-orang terdekatnya. Pendidikan anak seharusnya berkonsentrasi pada memberikan penghargaan terhadap pencapaian anak, seberapa pun kecilnya, ketimbang hanya berkutat pada mencari-cari kesalahan anak. Anak yang bermasalah atau mengakui bahwa dirinya bermasalah seharusnya dirangkul dan dibantu untuk menyelesaikan masalahnya bukannya dibenci, dijauhi atau direndahkan harga dirinya.
*
Di Inggris, aku mendapatkan pelajaran yang tidak kalah berharganya tentang pendidikan dasar. Pada suatu hari, di awal-awal mulai bersekolah di sini, anakku pulang sekolah sambil menangis, aku mengerti bahwa dia pasti mengalami kesulitan beradaptasi bukan hanya pada budaya tapi juga pada bahasa. Lalu kami di rumah mulai lebih menyemangatinya agar tetap mau bersekolah. Keesokan harinya dia pulang sekolah dengan kondisi happy, lalu aku tanya apa yang terjadi, ternyata dia senang bahwa tidak satu pun teman sekolahnya menyinggung tentang insiden dia menangis di sekolah kemarin. Dan ternyata situasi itu membuatnya lebih termotivasi dan bersemangat bersekolah,
"...ternyata anak-anak di sini tidak suka mengejek, Mama. Kalau di sekolah Abang dulu di Indonesia anak-anaknya suka mengejek. Kalau ada yang nangis kayak Abang kemarin pasti dia bakal terus-terusan diejek atau dipanggil bayi," ujarnya. Penjelasan yang sederhana, namun berdampak besar bagi seorang anak berusia delapan tahun!
Bisa dipahami bahwa memang begitulah cara kebanyakan kita di Indonesia dibesarkan. Bukan dengan pujian tapi dengan hinaan. Sehingga kita menjadi sulit mengkritik dengan hal-hal positif. Kritik bagi kita identik dengan mengumbar kesalahan dan keburukan saja, jarang ada yang mampu memberikan kritik secara berimbang (dan aku pikir, mungkin aku juga begitu!)
Semakin hari anakku semakin senang bersekolah di sini. Hampir setiap hari dia pulang dengan membawa penghargaan dalam berbagai bentuk, kadang-kadang berupa koin plastik berwarna-warni, kadang-kadang berupa stiker kecil bergambar atau bertulisan "well done!" atau "special award", bahkan pernah juga dia membawa pulang sertifikat penghargaan dari Kepala Sekolahnya karena menurut pihak sekolah dia pintar menulis atau membuat karangan. Belum lagi menurut anakku, guru-guru dan Kepala Sekolah suka memuji dengan melontarkan kata-kata "brilliant!" dan sejenisnya kepada para murid. Kenyataan ini tentu berbanding terbalik dengan kondisi di sekolah-sekolah di Indonesia di mana anak biasa dibentak, dihukum dan ditakut-takuti.
Bukan hanya di sekolah, anak-anak di sini juga mendapatkan penghargaan di rumah sakit atau di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Misalnya anakku yang baru selesai divaksinasi melalui suntikan lalu diberikan hadiah stiker-stiker bergambar lucu bertulisan "I am protected from bugs" [yang kira-kira terjemahan literal-nya berarti: "aku terlindungi dari hama"] yang ditempelkan di baju atau jaketnya. Pernah juga suatu kali aku harus mengantarkan anakku untuk diambil contoh darahnya, setelah proses pengambilan darah selesai jaketnya lalu ditempeli stiker besar bertulisan "I have been very brave today!" [yang kira-kira terjemahan literal-nya berarti: "aku berani sekali hari ini"].
Pernah aku bertanya pada anakku apa tidak pernah ada yang dihukum di sekolahnya? Dia bilang ada, dan hukuman yang paling memalukan bagi mereka adalah "name on the board" alias "namanya ditulis di papan (khusus)" dan ini biasanya diberikan pada anak-anak yang suka mengganggu orang lain. Bentuk hukuman yang lain adalah "face the wall", untuk yang ini anak disuruh duduk di lantai aula (atau di sini disebut sebagai "hall") sambil menghadap ke dinding, hukuman yang satu ini 'derajat'-nya lebih tinggi daripada "name on the board" karena hanya diberlakukan pada anak yang sudah beberapa kali mendapatkan 'jatah' ditulis namanya di papan khusus itu. O iya, di sini di ruang-ruang kelas pun sebagian besar jam pelajaran berlangsung sambil anak-anak duduk 'lesehan' di lantai berkarpet sehingga suasananya lebih santai, sedangkan meja-kursi digunakan bila ada pelajaran di mana anak diharuskan menulis. Coba bandingkan hukuman "name on the board" itu dengan hukuman di mana anak dijemur di halaman sekolah di bawah terik matahari, ehm, yang jelas hukuman ala jemuran itu mungkin akan membuat warna kulit menjadi lebih 'eksotis', atau kalau beruntung, pihak sekolah terpaksa harus mengurusi anak yang pingsan karena sengatan matahari.
Beberapa artikel atau diskusi tentang pendidikan anak menyebutkan bahwa mendidik dan membangun disiplin pada anak bagaikan proses aksi-reaksi; sederhananya adalah bila kita ingin didengar maka kita harus mau mendengar, bila kita ingin dihargai maka kita harus mau pula menghargai. Lalu bagaimana para guru dan orang dewasa di negara kita mau menuntut untuk didengar dan dihargai bila tidak pernah mau belajar untuk mendengar dan menghargai?
Sheffield . 6 February 2011
Menurut guru wali kelasnya Rayhan adalah anak yang bandel sehingga walaupun tubuhnya agak besar dia didudukkan di bangku barisan depan di dalam kelas. Pernah suatu ketika aku mendengar cerita dari teman sekelasnya bahwa Rayhan divonis oleh wali kelasnya kalau sudah besar akan menjadi preman karena kenakalannya mungkin sudah mencapai ambang batas kesabaran si guru.
Rayhan kecil kemudian menjadi tantangan juga buatku. Kali pertama aku masuk ke kelas itu kami hanya belajar lafal abjad dan angka, tidak ada latihan dalam bentuk tulisan hanya belajar mengucap dengan benar dan berulang-ulang sambil sesekali diselingi cerita. Di minggu kedua, aku mulai memberikan latihan menulis. Rayhan yang duduk di deretan depan dengan cepat tertangkap mata olehku bahwa sementara teman-temannya menulis dia malah sibuk mengganggu teman-teman di sekelilingnya. Aku datangi Rayhan ke bangkunya dan bertanya kenapa dia tidak menulis, dengan ringan dia menjawab bahwa dia tidak membawa buku tulis. Aku tidak kehilangan akal, aku mengambilkan Rayhan selembar kertas kosong lalu memintanya menulis di kertas itu. Ketika jam pelajaran selesai dan teman-temannya mulai mengumpulkan tulisan, kulihat Rayhan tidak juga beranjak dari bangkunya. Kembali aku datangi dia dan menanyakan hasil pekerjaannya, betapa terkejut sekaligus merasa geli melihat kertas yang aku berikan padanya sudah berubah menjadi pesawat kertas! Tapi aku tidak mempermasalahkan kertas yang sudah bertransformasi menjadi pesawat itu, aku hanya berpesan padanya bahwa lain kali dia sebaiknya membawa buku tulisnya agar bisa berlatih menulis seperti teman-temannya yang lain,
"...kalau Rayhan gak mau ngerjain latihan, nanti Ibu bingung mau kasih nilai apa buat raport Rayhan" begitu ujarku. Dan dia hanya diam saja.
Pertemuan ketiga. Sebelum pelajaran dimulai, ketika aku baru saja melangkahkan kaki ke dalam kelas, aku sempat mencuri dengar percakapan Rayhan bersama teman-temannya di bangku deretan depan, sekilas mereka sepertinya tengah mendiskusikan tentang Michael Jackson. Aku sempat melihat Rayhan memegang bungkus CD bergambar Michael Jackson. Lalu pelajaran pun dimulai. Lagi-lagi, Rayhan tidak terlihat berminat mengerjakan latihan yang kali ini aku berikan dalam bentuk lembaran kertas bergambar untuk diisi oleh anak-anak. Aku kembali mendatangi Rayhan ke bangkunya,
"Rayhan, suka musik ya?" tanyaku
Dia terlihat terkejut sekaligus senang mungkin karena ternyata pertanyaanku bukan seputar pelajaran yang sedang berlangsung.
"Iya" jawabnya singkat
"Siapa penyanyi yang Rayhan suka?"
"Michael Jackson" jawabnya dengan mata berbinar senang.
(Bingo! seruku dalam hati)
"Wah, Ibu juga suka sama Michael Jackson! Rayhan suka lagu apa?"
Demikian lah diskusi kami lalu berlanjut selama beberapa saat membicarakan top hits nya Michael Jackson. Dia mengaku kalau dia mengoleksi CD Michael Jackson di rumah dan dia masih terheran-heran ternyata ada juga lagu Michael Jackson yang aku sebutkan yang dia belum tau.
Sejak itu dia mulai menaruh perhatian pada pelajaran Bahasa Inggris yang aku ajarkan [Thanks to Michael Jackson!]. Surprisingly, pengetahuan kosa-kata Bahasa Inggris-nya justru cukup baik. Nilai rata-rata untuk tugas-tugas yang dia selesaikan selalu berada di urutan ke-2 atau ke-3 setelah anak-anak lain yang memang (dikenal) lebih rajin di kelas itu.
Pernah suatu ketika aku memberikan pekerjaan rumah berupa 1 lembar kertas A4 yang tugas di dalamnya terbagi ke dalam 3 bagian. Aku menginstruksikan kepada semua anak untuk hanya mengerjakan bagian pertama saja. Tapi ketika tiba waktunya tugas tersebut dikumpulkan Rayhan menyelesaikan seluruh bagian dari satu sampai tiga, komplit dan benar semua! Ketika ujian dia memperoleh nilai 80, sementara nilai tertinggi di kelas waktu itu adalah 95. Kalau melihat hal ini siapa yang percaya kalau Rayhan sudah dicap sebagai anak paling bandel di kelas dan pernah divonis akan menjadi preman kalau sudah besar kelak?
Waktu bagi raport tiba. Aku hadir di sana karena berencana mengembalikan buku, kertas-kertas latihan serta hasil ujian Bahasa Inggris anak-anak kepada orang tuanya masing-masing. Aku pun lalu mengikuti acara bagi raport dengan khidmat. Di sebelahku duduk seorang Ibu yang kelihatan gelisah. Aku pikir, semua orang tua pasti akan merasa sedikit gelisah pada momen seperti ini. Setelah beberapa waktu duduk berdampingan denganku, si Ibu yang duduk di sebelah akhirnya bertanya,
"Bu, Ibu ini guru Bahasa Inggris ya?"
"Iya Bu, sebenarnya saya hanya membantu sementara saja sampai sekolah punya Guru Bahasa Inggris yang sebenarnya. Maaf, Ibu ini orangtua nya siapa ya?"
"Saya Ibu-nya Rayhan. Gimana Rayhan di kelas Bu?" tanya Ibunya Rayhan dengan nada khawatir (sepertinya sudah siap juga menerima laporan kalau anak-nya nakal di kelas)
"Oh, Rayhan bagus sekali Bahasa Inggris-nya Bu. Semua kertas latihan anak-anak dan hasil ujian sudah saya serahkan ke Wali Murid, nanti Ibu bisa lihat hasil kerjanya Rayhan. Dia pintar Bahasa Inggris-nya Bu, nilainya bagus-bagus," jawabku ringan.
Di luar ekspektasiku, tiba-tiba Ibu-nya Rayhan menangis. Betul-betul menangis dengan air mata mengalir deras yang berkali-kali dia usap dengan sapu tangannya. Aku merasa seolah-olah beku, kehilangan kemampuan untuk berkata-kata sekaligus bingung harus bereaksi seperti apa karena aku tidak bersiap untuk menerima reaksi seperti ini.
"Bu, makasih ya. Anak saya itu nakal. Semua orang bilang dia nakal. Laporan yang saya dapat dari sekolah juga bilang dia nakal. Saya gak nyangka kalau sama Ibu dia malah nggak nakal, malah Ibu bilang dia pintar. Makasih ya Bu" kata Ibu-nya Rayhan sambil menggenggam tanganku.
Pengalaman ini memberikan value yang sulit untuk aku deskripsikan namun sangat berarti bagiku. Tidak lama setelah mengalami kejadian yang sangat membekas di ingatan itu aku menerima terusan pesan dari seorang teman tentang tulisan Rhenald Kasali yang berjudul 'Encouragement' yang sudah lebih dulu aku post-kan ke blog ini dan bisa diakses di: http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2010/07/encouragement-by-rhenald-kasali.html
Rayhan dan Ibu-nya sudah memberikan pelajaran yang berarti bagiku tentang rasa percaya (trust) dan penghargaan (appreciation). Aku seharusnya berterima kasih kepada Rayhan karena dia sudah memberiku ruang untuk lebih dulu mempraktekkan sebagian kecil pesan Rhenald Kasali tentang Encouragement, sebelum membaca tulisan tentang Encouragement itu sendiri.
Belakangan aku tau bahwa Rayhan sudah tidak memiliki Ayah, Ayahnya meninggal sementara usianya masih kecil. Aku pikir mungkin ini pulalah yang menjadi pemicu sehingga Rayhan bertingkah seolah-olah dia membutuhkan perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya. Dia masih terlalu kecil untuk mengetahui cara yang lebih baik untuk memperoleh pengakuan dan penghargaan. Dan sayangnya, sebagian besar orang dewasa di sekitarnya justru tidak dapat memahami apa yang dia rasakan dan apa yang sebenarnya dia butuhkan.
Sebenarnya dalam perjalanan pendek waktu yang sempat aku bagi bersama anak-anak Sekolah Dasar itu aku sebisa mungkin menyelipkan pelajaran tata krama (manner), minat membaca, mengembangkan kemampuan motorik, kemampuan berekspresi dan mengapresiasi. Sehingga aku juga menemukan beberapa anak unik lainnya di kelas yang sama. Sayangnya, waktu yang aku miliki untuk bersama mereka sangat sedikit dan aku juga tidak punya kemampuan untuk melakukan intervensi terlalu jauh terhadap sistem sekolah yang berlangsung.
*
Tadi malam aku baru menonton rekaman talk show terbaru Kick Andy melalui website Metro TV yang membahas tentang trend kehidupan seks anak dan remaja yang semakin mengerikan di Indonesia. Salah satu narasumber ahli yang dihadirkan adalah psikolog dan peneliti terkenal Indonesia, Ibu Elly Risman. Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran dari tayangan itu dan kemudian mengingatkanku kepada Rayhan yaitu bahwa anak-anak membutuhkan pengakuan terutama dari orang-orang terdekatnya. Pendidikan anak seharusnya berkonsentrasi pada memberikan penghargaan terhadap pencapaian anak, seberapa pun kecilnya, ketimbang hanya berkutat pada mencari-cari kesalahan anak. Anak yang bermasalah atau mengakui bahwa dirinya bermasalah seharusnya dirangkul dan dibantu untuk menyelesaikan masalahnya bukannya dibenci, dijauhi atau direndahkan harga dirinya.
*
Di Inggris, aku mendapatkan pelajaran yang tidak kalah berharganya tentang pendidikan dasar. Pada suatu hari, di awal-awal mulai bersekolah di sini, anakku pulang sekolah sambil menangis, aku mengerti bahwa dia pasti mengalami kesulitan beradaptasi bukan hanya pada budaya tapi juga pada bahasa. Lalu kami di rumah mulai lebih menyemangatinya agar tetap mau bersekolah. Keesokan harinya dia pulang sekolah dengan kondisi happy, lalu aku tanya apa yang terjadi, ternyata dia senang bahwa tidak satu pun teman sekolahnya menyinggung tentang insiden dia menangis di sekolah kemarin. Dan ternyata situasi itu membuatnya lebih termotivasi dan bersemangat bersekolah,
"...ternyata anak-anak di sini tidak suka mengejek, Mama. Kalau di sekolah Abang dulu di Indonesia anak-anaknya suka mengejek. Kalau ada yang nangis kayak Abang kemarin pasti dia bakal terus-terusan diejek atau dipanggil bayi," ujarnya. Penjelasan yang sederhana, namun berdampak besar bagi seorang anak berusia delapan tahun!
Bisa dipahami bahwa memang begitulah cara kebanyakan kita di Indonesia dibesarkan. Bukan dengan pujian tapi dengan hinaan. Sehingga kita menjadi sulit mengkritik dengan hal-hal positif. Kritik bagi kita identik dengan mengumbar kesalahan dan keburukan saja, jarang ada yang mampu memberikan kritik secara berimbang (dan aku pikir, mungkin aku juga begitu!)
Semakin hari anakku semakin senang bersekolah di sini. Hampir setiap hari dia pulang dengan membawa penghargaan dalam berbagai bentuk, kadang-kadang berupa koin plastik berwarna-warni, kadang-kadang berupa stiker kecil bergambar atau bertulisan "well done!" atau "special award", bahkan pernah juga dia membawa pulang sertifikat penghargaan dari Kepala Sekolahnya karena menurut pihak sekolah dia pintar menulis atau membuat karangan. Belum lagi menurut anakku, guru-guru dan Kepala Sekolah suka memuji dengan melontarkan kata-kata "brilliant!" dan sejenisnya kepada para murid. Kenyataan ini tentu berbanding terbalik dengan kondisi di sekolah-sekolah di Indonesia di mana anak biasa dibentak, dihukum dan ditakut-takuti.
Bukan hanya di sekolah, anak-anak di sini juga mendapatkan penghargaan di rumah sakit atau di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Misalnya anakku yang baru selesai divaksinasi melalui suntikan lalu diberikan hadiah stiker-stiker bergambar lucu bertulisan "I am protected from bugs" [yang kira-kira terjemahan literal-nya berarti: "aku terlindungi dari hama"] yang ditempelkan di baju atau jaketnya. Pernah juga suatu kali aku harus mengantarkan anakku untuk diambil contoh darahnya, setelah proses pengambilan darah selesai jaketnya lalu ditempeli stiker besar bertulisan "I have been very brave today!" [yang kira-kira terjemahan literal-nya berarti: "aku berani sekali hari ini"].
Pernah aku bertanya pada anakku apa tidak pernah ada yang dihukum di sekolahnya? Dia bilang ada, dan hukuman yang paling memalukan bagi mereka adalah "name on the board" alias "namanya ditulis di papan (khusus)" dan ini biasanya diberikan pada anak-anak yang suka mengganggu orang lain. Bentuk hukuman yang lain adalah "face the wall", untuk yang ini anak disuruh duduk di lantai aula (atau di sini disebut sebagai "hall") sambil menghadap ke dinding, hukuman yang satu ini 'derajat'-nya lebih tinggi daripada "name on the board" karena hanya diberlakukan pada anak yang sudah beberapa kali mendapatkan 'jatah' ditulis namanya di papan khusus itu. O iya, di sini di ruang-ruang kelas pun sebagian besar jam pelajaran berlangsung sambil anak-anak duduk 'lesehan' di lantai berkarpet sehingga suasananya lebih santai, sedangkan meja-kursi digunakan bila ada pelajaran di mana anak diharuskan menulis. Coba bandingkan hukuman "name on the board" itu dengan hukuman di mana anak dijemur di halaman sekolah di bawah terik matahari, ehm, yang jelas hukuman ala jemuran itu mungkin akan membuat warna kulit menjadi lebih 'eksotis', atau kalau beruntung, pihak sekolah terpaksa harus mengurusi anak yang pingsan karena sengatan matahari.
Beberapa artikel atau diskusi tentang pendidikan anak menyebutkan bahwa mendidik dan membangun disiplin pada anak bagaikan proses aksi-reaksi; sederhananya adalah bila kita ingin didengar maka kita harus mau mendengar, bila kita ingin dihargai maka kita harus mau pula menghargai. Lalu bagaimana para guru dan orang dewasa di negara kita mau menuntut untuk didengar dan dihargai bila tidak pernah mau belajar untuk mendengar dan menghargai?
Sheffield . 6 February 2011
Thursday, 15 July 2010
ENCOURAGEMENT by Rhenald Kasali
Tulisan Rhenald Kasali berjudul Encouragement ini sangat menggugah saya, mengingatkan akan carut-marutnya dunia pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan dasar. Artikel ini pertama kali saya peroleh melalui sebuah milis yang saya ikuti, lalu saya telusuri sumber awalnya yaitu dari situs okezone.
Semoga artikel ini dapat menjadi bahan evaluasi kita bersama. [equilibrium]
---------------------------------------------------------
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.
“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya.
Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.
“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI(//rhs)
Source of article:
http://kampus.okezone.com/read/2010/07/15/95/353132/encouragement
Semoga artikel ini dapat menjadi bahan evaluasi kita bersama. [equilibrium]
---------------------------------------------------------
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.
“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya.
Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.
“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI(//rhs)
Source of article:
http://kampus.okezone.com/read/2010/07/15/95/353132/encouragement
Subscribe to:
Posts (Atom)