Showing posts with label green architecture. Show all posts
Showing posts with label green architecture. Show all posts

Saturday, 19 February 2011

9 Kota Penyumbang Emisi Karbon dan Metan Terbesar di Dunia

Sebuah artikel di website National Geographic yang dirilis pada 9 Februari 2011 lalu mengemukakan hasil sebuah studi emisi gas polutan yang dilakukan di 100 kota dari 33 negara di dunia. Studi yang merupakan kolaborasi riset antara World Bank dengan The University of Toronto ini menyebutkan 9 kota di dunia yang merupakan kota paling berpolusi yaitu:

1. Rotterdam - Belanda
Rotterdam menghasilkan total emisi karbon dioksida dan metan rata-rata 29,8 ton per warga per tahun yang mayoritas merupakan hasil dari aktifitas pelabuhan yang berupa gas buangan bahan bakar kapal dan industri.

Port of Rotterdam 
(Image source: www.ordons.com via google)

2. Austin, Texas - Amerika Serikat
Austin berada di urutan kedua sebagai kota paling berpolusi dengan emisi karbon dan metan yang mencapai sekitar 24 ton per penduduk per tahunnya yang merupakan polusi yang dihasilkan oleh sektor konsumsi yaitu tingginya tingkat penggunaan kendaraan bermotor milik pribadi.

Austin, Texas - USA 
(Image source: michaelpaynespictures.blogspot.com via google)


3. Denver, Colorado - Amerika Serikat
Denver menghasilkan emisi gas polutan sebanyak rata-rata 21,5 ton per warga per tahunnya yang diperoleh dari aktifitas harian warga kotanya. Jumlah ini merupakan dua kali lipat dari total emisi New York yang 'hanya' mencapai sekitar 10,5 ton per warga per tahun. Gas polutan di Kota Denver juga disumbang oleh beberapa pembangkit listrik yang masih menggunakan sumber tenaga dari bahan tambang batu bara.

Denver, Colorado - USA
(Image source: www.bylandwaterandair.com via google)


4. Washington DC - Amerika Serikat
DC berada di urutan keempat dengan total emisi CO2 dan metan mencapai sekitar hampir 20 ton per kapita per tahun yang sebagian besar merupakan emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

Washington DC - USA 
(Image source: kenlevine.blogspot.com via google)


5. Minneapolis, Minnesotta - Amerika Serikat
Serupa dengan Denver dan DC, Minneapolis juga menghasilkan emisi karbon dan metan yang tinggi dari pembangkit listrik tenaga batu baranya dengan jumlah rata-rata sekitar 18 ton per penduduk per tahun.

Minneapolis, Minnesotta - USA
(Image source: www.aerialarchives.com via google)


6. Calgary - Canada
Calgary berada di urutan keenam dengan jumlah emisi yang menyerupai Minneapolis yaitu sekitar 18 ton per orang per tahun yang juga merupakan buangan dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

Calgary - Canada 
(Image source: www.canadianhomestayagency.com via google)


7. Menlo Park, California - Amerika Serikat
Kendati memiliki sumber pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan Denver, DC dan Minneapolis, namun Menlo Park/California menduduki peringkat 7 dunia sebagai kota pensuplai karbon dan metan terbesar dengan jumlah rata-rata 16 ton per orang per tahun yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar minyak pada kendaraan bermotor.

Menlo Park, California - USA 
(Image source: www.cswst2.com via google)


8. Dallas, Texas - Amerika Serikat
Penduduk Dallas menghasilkan sedikitnya 15 ton karbon dan metan per tahunnya.

Dallas, Texas - USA
(Image source: www.skyscraper.com via google)


9. Stuttgart - Jerman
Stuttgart mengemisi sekitar 12 ton karbon dan metan per penduduk per tahunnya sebagai hasil aktifitas industri kota.

Stuttgart - Germany
(Image source: www.flickr.com via google)

Studi di atas mengukur tingkat emisi karbon rata-rata yang dihasilkan dari aktifitas produksi dan konsumsi. Ada beberapa kota yang memiliki emisi tinggi sebagai hasil aktifitas industri, seperti misalnya Shanghai dan Beijing, namun konsumsi energi oleh warga kota yang efisien menghasilkan emisi karbon dan metan yang sangat rendah. Hal ini mampu membuat jumlah total emisi gas polutan di Shanghai dan Beijing lebih rendah dibandingkan kota lainnya yang menjadi objek pada studi ini. 

Para peneliti menyebutkan bahwa desain dan tata letak (layout) kota memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat emisi karbon yang dihasilkan warga kotanya. Kota dengan sebaran wilayah permukiman yang melebar membuat tingkat efisiensi penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor sangat rendah, penduduk dengan jenis sebaran kota jenis ini cenderung menggantungkan pergerakan dan transportasinya kepada kendaraan bermotor pribadi. Sedangkan kota yang compact dengan tingkat kepadatan tinggi yang mengharuskan warga beraktifitas dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan umum akan mampu membantu menekan laju emisi gas polutan dari sektor konsumsi.

Hal ini pula yang membuat tingkat emisi karbon dan metan kota-kota di Eropa cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kota-kota di Amerika Serikat. Kota-kota di Eropa cenderung bersifat compact, dengan kepadatan tinggi dan sebaran kota (urban sprawl) yang terbatas. Sedangkan kota-kota di Amerika Serikat cenderung memiliki sebaran kota melebar ke arah suburban dengan kawasan permukiman baru yang dikembangkan bagi warga kota yang cenderung tidak menyukai tinggal di kawasan pusat perkotaan yang sibuk, dengan resiko perjalanan menuju lokasi bekerja akan memakan waktu lebih panjang dan konsumsi energi lebih tinggi serta emisi gas polutan lebih besar pula.

Dan Hoornweg, Urban Specialist yang terlibat dalam studi ini juga menyebutkan manfaat lain dari desain kota yang compact adalah bahwa bila seseorang dapat mencapai satu tempat ke tempat lainnya dalam waktu yang lebih singkat selain dapat mendukung efisiensi waktu juga akan mampu meningkatkan tingkat kualitas hidup (the quality of life) orang tersebut. [Hasil studi lengkapnya akan di-publish di jurnal Environment & Urbanization tahun ini]

Dari studi di atas kita dapat melihat bahwa untuk menekan laju emisi karbon dan metan ke udara yang dapat membentuk dampak rumah kaca bagi bumi (yang mengakibatkan pemanasan global!), dibutuhkan berbagai upaya meliputi: desain ruang kota dan perencanaan tata guna lahan yang tepat; penggunaan sumber tenaga listrik ramah lingkungan (seperti sumber hydro, solar dan angin); efisiensi penggunaan listrik pada bangunan dan rumah tinggal; serta efisiensi penggunaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Selain itu cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengimbangi emisi karbon, menyerap polutan dan debu sebagai hasil aktifitas masyarakat modern, serta mengurangi efek urban heat island akibat konsentrasi pembangunan dan kegiatan manusia di wilayah perkotaan adalah dengan bertanam [lebih banyak] pohon! Informasi lain terkait pengaruh pohon terhadap gas polutan bisa dibaca di:
http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2010/12/bukan-sekedar-pohon.html
http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2010/12/trembesi.html

Hasil penelitian Dan Hoornweg dan timnya menyisakan pertanyaan lain bagi saya. Melihat bahwa tidak satupun dari kota-kota yang disebutkan oleh Hoornweg [dan tim penelitiannya] merupakan kota yang berada di kawasan negara berkembang (developing countries), lalu kenapa gembar-gembor konsentrasi pengurangan emisi malah (seolah-olah) dilimpahkan menjadi tanggung jawab negara berkembang?

USA pernah berkeras tidak mau menandatangani perjanjian Kyoto kalau negara-negara berkembang tidak 'dipaksa' membatasi emisi karbon-nya (baca di: http://www.americans-world.org/digest/global_issues/global_warming/gw3.cfm).

Lalu dibentuk program-program khusus untuk negara berkembang, misalnya seperti Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) yang bahkan UN membentuk projek khusus untuk menangani isu ini yaitu UN REDD Programme [http://www.un-redd.org/]. Dalam program seperti REDD ini negara-negara berkembang diberikan insentif untuk mencegah deforestasi dan degradasi hutannya lalu implementasi dan progresnya dimonitor oleh negara-negara maju (terutama oleh negara pemberi dana). Keterlibatan Indonesia di REDD bisa dibaca di: http://acehclimatechange.org/2010/06/30/dana-perubahan-iklim-norwegia-gratis/ dan http://acehclimatechange.org/2010/07/27/badan-pengurangan-emisi-segera-dibentuk/

Bagaimana negara besar seperti USA, yang justru merupakan penyumbang terbesar emisi karbon dan metan (berdasarkan penelitian di atas) mampu 'mengatur' warga negaranya agar merubah gaya hidup penyumbang polusi menjadi lebih bertanggung jawab terhadap seluruh warga dunia lainnya? Lalu bagaimana kita sebagai warga negara berkembang bisa ikut mengawasi progres yang mereka lakukan untuk secara signifikan menekan pengurangan emisi dari negaranya? Mudah-mudahan saya bisa segera memperoleh jawaban untuk kelanjutan tulisan ini :)

Sheffield . 19 February 2011

Artikel Rujukan:
http://news.nationalgeographic.com/news/energy/2011/02/pictures/110209-surprisingly-dirty-cities-science-environment-global-warming-greenhouse/#/gassiest-cities-greenhouse-gas-co2-rotterdam_32050_600x450.jpg

Wednesday, 2 February 2011

Perumahan Pasca Bencana

Topik ini mungkin sedikit usang kalau dikaitkan dengan bencana alam gempa bumi dan tsunami pada Desember 2004 yang telah menyapu bersih kawasan pesisir Aceh dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Namun mengingat kekerapan bencana di berbagai belahan dunia yang terus saja terjadi baik akibat pergerakan lempeng bumi maupun akibat perubahan iklim global, ada baiknya kalau topik ini saya tulis saja, mungkin bisa jadi pembelajaran bersama. Apalagi memang walaupun pernah terlibat dalam proses monitoring dan evaluasi upaya rekonstruksi perumahan pasca bencana di Aceh saya belum pernah sekalipun menuliskan opini pribadi saya tentang topik ini di blog.

Ada dua sudut pandang utama yang mendominasi ranah rekonstruksi perumahan dan permukiman di Aceh [dan Nias] pasca bencana 2004, yang pertama adalah 'jalur aman' yang sudah dikenal akrab terutama oleh pemerintah baik nasional maupun lokal yaitu pelaksanaan proyek perumahan berbasis tender dengan pelaksana konstruksi lapangan adalah kontraktor; yang kedua adalah jalur 'tidak umum' [bagi pemerintah] yang diusung oleh beberapa organisasi kemanusiaan termasuk UN Habitat yaitu proses perencanaan dan pelaksanaan yang dilakukan murni oleh masyarakat. Kedua jalur tersebut tentu memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing.

Pelaksanaan rekonstruksi perumahan berbasis tender yang dilaksanakan oleh kontraktor memang memakan waktu dan proses yang relatif lebih pendek. Idealnya konstruksi keluaran proyek jenis ini akan lebih mudah dimonitor serta dievaluasi karena akan mudah menelusuri titik-titik kelemahan atau ketidaksempurnaan proyek berdasarkan dokumen perencanaan yang telah disiapkan oleh pihak penyedia proyek dan mudah pula mengejar pertanggungjawaban dari kontraktor pelaksana. Namun pada masa rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana di Aceh dan Nias, proyek jenis ini justru yang paling bermasalah dan banyak ditolak masyarakat dan berujung pada tingkat okupansi atau tingkat hunian pasca konstruksi yang sangat rendah (Hasil Survey UN Habitat-Unsyiah, 2006-2007). Banyak pihak yang menilai bahwa kurang berhasilnya proyek perumahan jalur tender ini dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya: lemahnya pengawasan oleh pihak pemberi pekerjaan (dalam hal ini sebagian besar proyek yang dinilai gagal adalah milik pemerintah melalui Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi/BRR); tidak memungkinkannya penerapan law enforcement karena kondisi darurat bencana; dominasi situasi sosial dan politik yang sulit pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh berlangsung.

Pelaksanaan rekonstruksi perumahan berbasis masyarakat (atau sebagian orang menyebutnya juga sebagai konsep partisipatif) awalnya cenderung membuat masyarakat frustrasi karena memakan waktu yang panjang, mulai dari tahap perencanaan hingga konstruksi. Segala keputusan yang diambil berkaitan dengan perencanaan hingga pelaksanaan harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama per kelompok masyarakat atau malah per kampung. Hal inilah yang membuat proses rekonstruksi jenis ini berjalan lambat. Kendala dalam situasi darurat bencana muncul berupa kesulitan dalam menemukan warga yang berhak atas bantuan rumah dan kesulitan mengumpulkan warga untuk melaksanakan proses musyawarah, karena sebagai respon natural manusia segera setelah bencana biasanya warga akan mengungsi ke luar dari wilayah perkampungan yang terkena bencana untuk beberapa saat lamanya. Namun pada saat proses konstruksi telah selesai masyarakat cenderung merasa lebih puas karena mereka merasa yakin akan kualitas konstruksi rumah yang dibangun. Hal ini terjadi sebagai dampak dari keterlibatan mereka sendiri sejak awal proyek dimulai hingga selesai.

Tapi bukan berarti dalam proyek berbasis masyarakat seperti ini 'kecolongan' di sana-sini tidak mungkin terjadi. Selain durasi yang panjang yang menuntut agar institusi pemberi bantuan memiliki komitmen yang tinggi dalam menjalankan proyek jenis ini, proyek berbasis masyarakat juga menuntut organisasi pemberi bantuan agar lebih aktif dan sensitif dalam bekerja bersama-sama masyarakat. Aktif dalam artian memiliki energi untuk mengumpulkan warga yang akan dibantu, memberikan motivasi dan semangat, membekali masyarakat dengan pengetahuan akan standar konstruksi yang layak, membagi pengetahuan tentang manajemen proyek konstruksi serta tidak cepat menyerah menghadapi masyarakat yang masih berada dalam kondisi trauma dan depresi. Sensitif berarti jeli melihat bagaimana struktur sosial akan mempengaruhi pengambilan keputusan dan keterlibatan di level warga serta jeli memastikan bahwa kebutuhan semua elemen masyarakat, terkait jenis kelamin dan usia, dapat dipenuhi oleh proyek yang dijalankan. Tanpa didampingi oleh organisasi pemberi bantuan dengan kru lapangan yang bermental aktif dan sensitif tersebut, maka 'kecolongan' mungkin saja terjadi di lapangan misalnya berupa bantuan rumah yang jatuh ke tangan yang salah, monopoli dan manipulasi material bangunan, kesalahan prosedur pembangunan sistem sanitasi yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan, dan lain sebagainya.

Durasi panjang, komitmen tinggi serta energi besar yang harus dicurahkan pada proyek rekonstruksi perumahan berbasis masyarakat ini yang kemudian membuatnya kurang diminati oleh institusi yang membutuhkan proyek yang cepat selesai (atau dituntut cepat selesai oleh donor?) terutama tidak diminati oleh lembaga pemerintah. Di sisi lain, tenaga ahli terkait juga tidak tersedia dalam jumlah memadai untuk memfasilitasi proyek jenis ini. Banyak ahli perencanaan dan arsitek terlibat dalam proyek perumahan pasca bencana namun sangat sedikit yang memiliki pengetahuan tentang bagaimana menjalankan proyek perumahan berbasis masyarakat (Dercon & Kusumawijaya, 2007). Bahkan para perencana yang merupakan lulusan sekolah perencanaan yang berbasis social science pun mungkin akan sulit menerapkan ilmu perencanaan partisipatif jenis ini karena kondisi pembelajaran teori di ruang kelas seringkali hanya mengandung representasi kasus lapangan dalam porsi yang sangat sedikit. Saya pribadi pernah mengikuti mata kuliah perencanaan partisipatif namun dengan contoh kasus penerapan untuk kondisi 'normal' bukan untuk kondisi pasca bencana yang tentu memiliki karakter khusus yang membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

Dalam sebuah proyek partisipatif, arsitek dan perencana harus cukup berjiwa besar untuk menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi masyarakat, bukan sebagai ahli. Karena dalam pembangunan partisipatif justru masyarakatlah yang menjadi ahli, mereka yang lebih tau apa yang mereka butuhkan dan seberapa besar kekuatan mereka untuk mengelola proyek tersebut. Hal-hal yang tidak dapat ditawar hanyalah yang menyangkut keamanan dan kelayakan, misalnya standar konstruksi yang aman terhadap resiko gempa bumi, lay out atau perletakan rumah di dalam tata ruang kampung yang akan berhubungan dengan keamanan dan akses terhadap bahaya kebakaran, standar sanitasi lingkungan dan sejenisnya. Untuk itu perencana dan arsitek membutuhkan kecakapan pendukung berupa kecerdasan berkomunikasi, kemampuan bernegosiasi dan mengatasi keluhan atau konflik, serta kemampuan mendelegasikan tugas merencana kepada masyarakat. Ketidakberhasilan seorang perencana atau arsitek berkomunikasi dengan masyarakat untuk menerapkan standar-standar kelayakan bangunan dan tata ruang akan bermuara pada ancaman bahaya lain bagi masyarakat di kemudian hari.

*
Masalah rekonstruksi perumahan pasca bencana di Aceh sempat menghadapi sejumlah tantangan di antaranya sebaran pengungsi yang tidak terkendali dan tidak teridentifikasi, sehingga menyulitkan proses verifikasi jumlah penerima bantuan perumahan. Belum lagi masalah penyewa yang juga kehilangan tempat tinggal dan harta benda namun tidak memiliki hak atas rumah yang ditempatinya pada saat bencana terjadi sehingga mereka kesulitan mengakses bantuan perumahan. Aceh, seperti halnya daerah lain di Indonesia, tidak memiliki basis data perumahan yang menyimpan data rumah dan pemilik rumah yang rinci di level permukiman atau kampung. Peta lokasi permukiman juga merupakan hal yang langka hingga pasca bencana 2004. Hal ini sangat menyulitkan proses validasi lahan dan batas-batas lahan dalam masa rekonstruksi.

Saya pernah bekerja magang di sebuah badan perencanaan kota di Inggris, tepatnya di North Tyneside City Council, Newcastle, di wilayah Utara Inggris. Waktu itu saya ditempatkan di bagian Development Control. Hal yang paling mengesankan bagi saya selain dari melihat betapa efektifnya sebuah Badan Perencanaan Kota (atau di Indonesia dikenal sebagai BAPPEDA Kota) bekerja mengatur lalu lintas aplikasi pengembangan wilayah kota dan bangunan, juga melihat bagaimana basis data perumahan dan permukiman mereka bekerja. Contoh sederhana adalah ketika saya ikut serta mengamati proses pemberian izin pengembangan sebuah rumah, si pemilik rumah mengajukan permohonan untuk menambah tinggi bangunan rumahnya setinggi satu lantai ke atas. Permohonan tersebut lalu diproses oleh bagian Development Control dengan melakukan pengecekan ke basis data digital (yang diakses melalui intranet) yang menyimpan data tipografi dan tinggi rata-rata rumah (dalam bentuk gambar) di kawasan di mana si pemohon tinggal. Bila tinggi bangunan yang akan ditambah dianggap akan mengganggu kenyamanan tetangga di sekitarnya, misalnya mengganggu pemandangan dan akses cahaya matahari, maka biasanya permohonan akan ditolak. Demikian pula bila desain bangunan yang diajukan dianggap tidak sesuai dengan tema lingkungan di sekitarnya, maka biasanya permohonan akan diminta untuk direvisi lalu diajukan ulang. Petugas di bagian Development Control ini juga biasanya akan menghubungi para tetangga di sekitar rumah pemohon, melalui surat cetak, surat elektronik (e-mail) dan telepon, untuk memastikan apakah para tetangga akan keberatan dengan permohonan tersebut atau tidak. Bila sebuah permohonan pengembangan telah disetujui pun biasanya para tetangga akan dihubungi untuk diberitahu bahwa akan ada proses konstruksi di lingkungan sekitar rumah mereka yang mungkin akan sedikit mengganggu kenyamanan mereka. Pada saat itu saya sempat berpikir, beginilah seharusnya cara pajak yang dibayarkan oleh warga kota bekerja.

Dengan basis data selengkap dan seakurat seperti yang dimiliki oleh North Tyneside City Council tentunya akan sangat memudahkan proses verifikasi dan validasi kepemilikan lahan bila dibutuhkan seperti pada kondisi pasca tsunami di Aceh tahun 2004.

*
Hal lain yang disesali banyak pihak dalam masa tanggap darurat bencana di Aceh adalah terlambatnya distribusi hunian sementara. United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), atau sekarang dikenal sebagai UN Refugee Agency, adalah salah satu lembaga yang paling awal masuk ke Aceh dan membantu melindungi warga dengan mendistribusikan tenda. Sayangnya, tenda tidak bertahan lama untuk melindungi pengungsi terutama di bawah cuaca ekstrim dan panas menyengat di Aceh pasca tsunami 2004. Banyak pengungsi yang akhirnya memilih tinggal sementara di rumah kerabat, atau di penampungan umum lainnya di luar kampung aslinya. Hingga akhirnya pemerintah daerah membangunkan barak-barak pengungsian yang tersebar di banyak daerah di Aceh yang walaupun membantu memberikan perlindungan yang lebih layak bagi pengungsi dibandingkan tenda namun di sisi lain makin menyulitkan proses validasi dan verifikasi penduduk. International Federation of Red Crosses (IFRC) setelah satu hingga dua tahun pasca bencana akhirnya mendistribusikan rumah sementara sistem bongkar-pasang yang lebih layak tinggal dengan bahan baku impor yang bisa diandalkan untuk 'merumahkan' pengungsi kembali tepat ke tanahnya masing-masing. Namun inipun dianggap sangat terlambat mengingat sudah banyak rumah permanen terbangun dan banyak pula warga yang sudah 'menetap' di barak.

Rumah sementara (temporary shelter) yang didistribusikan oleh IFRC 
bagi korban bencana alam Aceh 2004

Masalah validasi lahan dan verifikasi penduduk menjadi sulit sekaligus penting pasca bencana Aceh karena yang terjadi di Aceh adalah bencana alam tsunami yang dampaknya terhadap batas lahan dan property mungkin berbeda dengan gempa bumi. Gempa bumi, tanpa diikuti dengan bencana sekundernya, walaupun mungkin beresiko merubuhkan bangunan namun tidak menyapu bersih batas-batas lahan dan seluruh property manusia. Namun tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 bahkan membuat banyak wilayah kembali menjadi nol, bersih tanpa struktur dan pepohonan, walau di sebagian tempat mungkin menyisakan puing-puing atau bekas-bekas bangunan. Kondisi ini, berdasarkan jumlah korbannya, direkam dunia sebagai salah satu peristiwa alam terburuk setelah letusan gempa bumi di Haiyuan, China, tahun 1920 (dari: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_natural_disasters_by_death_toll#Ten_deadliest_natural_disasters_of_the_past_century).

*
Tidak ada yang menginginkan hal seburuk tsunami 2004 terjadi lagi di mana pun di seluruh dunia ini. Namun untuk mencegah terjadinya kehilangan yang fatal maka kita harus mempersiapkan diri sejak dini. Dari sisi perencanaan, hal yang dapat dipelajari dan dijadikan sebagai salah satu acuan kesiapsiagaan bencana [bagi Aceh] adalah menjadikan perencanaan perumahan dan permukiman sebagai salah satu poin di antara elemen penting kesiapsiagaan bencana lainnya.

Perencanaan kesiapsiagaan bencana bagi sektor perumahan dan permukiman ini dapat meliputi:
  • Pembangunan basis data permukiman. Hingga saat ini masyarakat kita mengandalkan kepercayaan bahwa mereka memiliki hak atas sebidang tanah berdasarkan sertifikat resmi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau dulunya dikenal sebagai Agraria, tapi di mana dan bagaimana mengakses basis data pertanahan tersebut hingga kini masih menjadi pertanyaan, terutama bagi saya pribadi, karena pasca bencana 2004 data BPN tersebut sama sekali tidak dapat difungsikan. Karena itulah menurut saya penting sekali untuk memulai membuat basis data permukiman yang lebih rinci serta di-update secara berkala.
  • Penetapan poin-poin pengungsian per permukiman untuk memudahkan pendataan pasca bencana serta memudahkan sesama warga untuk dapat saling menemukan kerabatnya; 
  • Pengaturan skema distribusi hunian sementara pasca bencana; 
  • Penetapan prosedur rekonstruksi perumahan dan permukiman pasca bencana, meliputi skema perencanaan, pelaksanaan dan pendanaan. Dalam proses rekonstruksi perumahan di Aceh [dan Nias] pasca 2004, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak proyek yang terlaksana di bawah tekanan donor. Celakanya, kepentingan donor dengan kepentingan masyarakat penerima bantuan seringkali tidak berjalan beriringan karena adanya perbedaan jarak, kultur dan cara pandang. Untuk itu sebaiknya pemerintah mulai memikirkan strategi untuk melepaskan ketergantungan pada donor (bila memang memungkinkan), bila bencana alam lain menghampiri di kemudian hari, sehingga rekonstruksi pasca bencana dapat berjalan sesuai konteks lokal dan lebih bernilai berkelanjutan.
Kesiapsiagaan ini tentunya perlu mengikutsertakan upaya preventif bagi terjadinya resiko bencana, misalnya melalui perencanaan, edukasi, pengawasan dan penegakan hukum yang memadai bagi perkembangan tata ruang permukiman dan struktur fisik rumah dan perumahan.

Sangat disayangkan bahwa pasca bencana 2004, di Kota Banda Aceh masih banyak permukiman penduduk yang tumbuh secara organik tanpa mempertimbangkan faktor keamanan bersama. Atap antara satu rumah dengan rumah lain saling bersinggungan yang dapat meningkatkan resiko penyebaran api bila terjadi kebakaran, atau resiko 'bertubrukan' bila terjadi gempa bumi. Orientasi antar rumah tidak direncanakan dengan baik sehingga masih dapat ditemui sebuah rumah dengan pintu depan menghadap tepat ke bagian belakang rumah lainnya dengan jarak sirkulasi yang sangat minim pula, hal ini tentu membahayakan dan menyulitkan untuk proses evakuasi bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Perkembangan permukiman secara organik seperti ini bila tidak dikontrol akan memunculkan jalur-jalur buntu dan ruang-ruang 'mati' yang baru. Padahal ketika tsunami 2004 terjadi banyak warga yang mengakui bahwa jalur buntu mengakibatkan banyak orang terperangkap ketika akan menyelamatkan diri, dan akhirnya menjadi korban bencana. Proses rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana 2004 di beberapa wilayah permukiman sudah mengupayakan eliminasi terhadap jalur-jalur buntu melalui tahapan konsolidasi lahan bersama warga, namun tanpa dukungan peraturan dan pengawasan dari pemerintah daerah saya khawatir jalur buntu dan 'ruang mati' baru akan bermunculan kembali dan mengancam keselamatan masyarakat di kemudian hari.

Tulisan terkait topik ini dapat dibaca di:
http://mystateofequilibrium.blogspot.com/2011/01/fakta-penting-gempa-bumi.html

Sheffield . 2 February 2011

Wednesday, 29 December 2010

Rumah Botol Ridwan Kamil








Ridwan Kamil adalah arsitek muda Indonesia dengan reputasi Internasional. Nama besar dan karya-karyanya menjadi inspirasi bagi banyak arsitek muda lainnya di Indonesia. Selain sibuk berprofesi sebagai arsitek, Ridwan Kamil juga menjadi penggagas dan Direktur dari Bandung Creative City Forum. Salah satu masterpiece arsitektur Ridwan Kamil adalah rumah tinggalnya sendiri.

Terletak di kota berhawa sejuk, Bandung, Indonesia, arsitek yang akrab disapa dengan sebutan Emil ini membangun rumahnya dari 30,000 botol kaca bekas minuman energi. Emil memilih botol minuman berenergi merk terkenal ini karena menurutnya botol minuman ini tidak dikumpulkan kembali oleh si pemilik industri untuk diisi ulang, seperti yang biasanya dilakukan oleh minuman ringan kemasan botol yang banyak beredar di pasaran. Emil mengumpulkan puluhan ribu botol kaca bekas itu selama 2 tahun! Ini menunjukkan komitmennya yang sangat tinggi terhadap konsep rancangan dan idenya untuk sekaligus mengurangi sampah di kotanya.

"Saya sempat kesal ketika kota kelahiran saya, Bandung, pernah dijuluki sebagai Bandung Lautan Sampah," ujarnya dalam sebuah kesempatan memberikan ceramah di TEDx, event TED independen yang dilaksanakan di Jakarta pada Juli 2010 lalu. Selain itu ide menggunakan botol kaca berwarna coklat ini juga datang dari kebiasaannya memperhatikan para pekerjanya yang sering mengkonsumsi minuman tersebut. "Warna coklat kacanya juga selaras dengan warna kayu," demikian ujarnya seperti yang dikutip dari HomeDezign.com.

Selain memadupadankan rancangan rumah botolnya dengan kayu, Emil juga menggabungkan susunan botol dengan glass block di beberapa bagian. Guna meminimalkan penggunaan cat di bagian luar bangunan, sang arsitek juga membiarkan beberapa bagian beton terekspos dan menampilkan warna natural betonnya. Aksentuasi kontras diperoleh dari penggunaan furnitur dan elemen interior lainnya di bagian dalam rumah.

Kerja kerasnya ini tidak sia-sia, pada tahun 2009 Emil dianugrahi Green Design Award 2009 oleh BCI Asia, mengalahkan sedikitnya 80 partisipan lain dari 8 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam, Philippines, Hong Kong dan China. Rumah yang berdiri di atas lahan berbentuk trapesium seluas 373 meter persegi ini layak diberi label green bukan hanya karena dibangun dari limbah botol kaca lokal, melainkan juga karena sifat kaca yang tembus pandang memungkinkan cahaya matahari masuk pada siang hari membuat bangunan ini mampu menghemat penggunaan cahaya lampu pada siang hari.

Sheffield . 29 Desember 2010

Sumber literatur dan foto:




Bukan "Sekedar" Pohon


Masih kecewa karena kejadian penebangan pohon-pohon besar di kawasan Darussalam – Banda Aceh, dua hari yang lalu, saya merasa bertanggung jawab untuk memperkaya pengetahuan diri sendiri akan manfaat pohon.

  • Apa benar pohon ya cuma sekedar pohon, yang sejak kecil hingga sekarang saya kenal sebagai tumbuhan bertubuh besar, berdaun (dominan) hijau, memiliki cabang, ranting serta akar yang kuat, yang kalau saya berdiri di bawahnya akan merasa teduh walau sesekali kejatuhan ulat daun, semut merah atau kotoran burung atau kalau sedang sangat apes kejatuhan ular kecil berwarna hijau.. (hiiyy!)
  • Apa mungkin saya merasa sedih hanya karena punya kenangan masa kecil tentang bagaimana saya diajari Kakek bertanam pohon dan senang memanjat pohon di kebun Kakek, bergelayutan di dahan-dahan pohon (yang agak rendah tentunya, hey, saya kan perempuan!) sambil ngemil jambu klutuk atau potongan nenas. 
  • Apa iya saya kesal pohon besar ditebang di kota saya karena itu berarti saya akan kesulitan mencari tempat teduh saat menunggu angkutan umum yang berarti harus rela juga kalau kulit wajah saya akan terekspos sinar matahari? 

Akhirnya, supaya alasan rasa kecewa itu tidak terdengar terlalu self-centred,saya pun mencari ‘kebenaran’ tentang manfaat pohon bagi manusia dengan bantuan Bang-Google. Diskusi di bawah ini akan menyajikan manfaat pohon dan pepohonan dari sudut pandang ekologi, ekonomi dan sosial.

Manfaat Ekologis
Sebatang pohon bekerja memberikan manfaat bagi manusia selama 24 jam sehari, tugasnya meliputi perbaikan kualitas lingkungan sekaligus memperbaiki kualitas hidup manusia yang berdiam di sekitarnya. Di luar dari manfaat estetika yang disuguhkannya pepohonan menyangga kualitas udara dan air, membantu menghemat energi dan mendukung keberlangsungan ekonomi.

Secara ilmiah, pohon terbukti mampu mengurangi kadar karbondioksida (CO2) di udara dengan cara menyerap dan menyimpan karbondioksida di dalam tubuhnya. Pohon menyerap karbondioksida di udara selama proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat bagi dirinya, proses tersebut kemudian melepaskan oksigen ke udara sebagai ‘produk sampingan’ yang justru bernilai positif bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Proses ini dikenal pula dengan istilah carbon sequestration. Hingga saat ini bertanam pohon masih menjadi aktifitas yang paling mudah dan murah yang dapat dilakukan manusia untuk menyerap CO2 dari udara.

Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebatang pohon berusia dewasa mampu menyerap CO2 hingga 21.8kg/tahun sekaligus melepaskan oksigen ke udara yang cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen 2 manusia. Separuh dari seluruh elemen gas pembentuk efek rumah kaca yang memerangkap panas bumi di lapisan atmosfer adalah CO2, efek rumah kaca mengakibatkan suhu permukaan bumi meningkat dan diyakini berdampak utama pada terjadinya perubahan iklim secara global.

Naungan pohon dengan kanopi yang memadai akan mendinginkan bangunan dan lingkungan sekitarnya sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan pendingin ruangan hingga 30%. Berkurangnya penggunaan pendingin ruangan berarti mengurangi kebutuhan akan suplai listrik sekaligus mengurangi kebutuhan bahan bakar berbasis fosil atau minyak bumi yang umumnya masih digunakan sebagai bahan bakar bagi mesin-mesin pembangkit listrik di negara kita. Mengurangi penggunaan bahan bakar minyak pada mesin pembangkit listrik juga berarti mengurangi emisi karbon atau gas rumah kaca! Melihat rantai kejadian di atas maka jelas sekali bahwa pohon adalah ‘alat’ yang efektif untuk mengurangi dampak pemanasan global.

Selain menyerap karbondioksida, pepohonan juga menyerap gas polutan lainnya melalui stomata yang terdapat pada permukaan daun. Gas polutan yang umumnya terdapat di wilayah perkotaan adalah: sulfur dioksida (SO2); ozon (O3); nitrogen oksida (NO2). Polutan-polutan tersebut merupakan produk buangan bahan bakar dari kendaraan bermotor dan industri yang dapat mengakibatkan gangguan pernafasan pada manusia. Sedangkan ozon yang mestinya berada pada lapisan paling atas atmosfer dan berfungsi menyaring sinar UV dari matahari dapat terbawa turun ke permukaan bumi oleh fenomena alam, seperti badai, dan ketika berada di permukaan bumi ozon justru memberi dampak buruk bagi kesehatan manusia. Ozon di sekitar kita juga dihasilkan sebagai produk buangan kendaraan bermotor.

Jalur hijau dengan lebar lebih dari 2m (dua meter) dengan kombinasi pohon dan tanaman rumput bahkan mampu mereduksi polusi debu dari jalan raya hingga 75% (Bhumicara, 2008). Pepohonan di sepanjang tepi jalan juga mencegah refleksi sinar matahari yang menyilaukan pengguna jalan.

Mari kita telusuri manfaat akar pohon, akar pohon berfungsi mengurangi erosi atau penggerusan lapisan atas tanah (topsoil) yang merupakan lapisan yang mengandung konsentrasi unsur organik tertinggi serta habitat mikroorganisme.Topsoil biasanya merupakan campuran pasir, lumpur halus, tanah liat dan humus, yang merupakan media terbaik bagi pertumbuhan tanaman lainnya. Akar pohon menghambat masuknya polutan yang ada di dalam tanah ke jejaring air tanah, dan membantu penyerapan air oleh tanah. Seluruh proses ini menjamin ketersediaan dan kualitas air tanah untuk kelangsungan hidup manusia. Setiap 5% lingkup pepohonan di dalam suatu kawasan mampu mengurangi laju air hujan dan membantu penyerapan air tanah hingga sekitar 2%.

Kawasan yang memiliki banyak pohon besar sebagai peneduh cenderung membuat pengendara kendaraan bermotor akan berkendara dengan kecepatan lebih rendah dibandingkan dengan berkendara di kawasan tanpa pohon. Jalan yang tidak didampingi pepohonan akan terasa lebih lebar atau lapang sehingga pengendara cenderung akan menambah laju kendaraannya yang dapat berakibat pada kecelakaan lalu lintas. Penataan jalan yang baik idealnya menjadikan pepohonan sebagai pembatas di antara kendaraan yang melaju di jalan dengan para pejalan kaki. Selain itu barisan pepohonan di jalan raya dapat dibaca sebagai penanda tikungan atau belokan bagi pengendara kendaraan bermotor sehingga mereka akan melambatkan laju kendaraannya sejak berada pada jarak yang lebih aman.

Dalam konteks pengurangan resiko bencana, pepohonan yang secara kolektif ditanam dengan perencanaan yang benar juga mampu meredam laju angin bahkan gelombang sehingga mampu mengurangi resiko bencana bagi manusia.

Manfaat Ekonomi
Beberapa studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pepohonan memberi dampak bagi kestabilan ekonomi suatu wilayah dengan cara menarik lebih banyak peminat bisnis dan wisatawan. Pengunjung kawasan pertokoan yang dilindungi banyak pepohonan cenderung akan berjalan-jalan dan berbelanja lebih lama dibandingkan dengan kawasan pertokoan yang gersang.

Kawasan permukiman dan perkantoran pun cenderung memiliki tingkat penggunaan (occupancy rate) yang lebih tinggi bila didukung dengan pepohonan yang tertata baik. Bahkan di Amerika Serikat harga jual kembali properti yang berada di lingkungan yang memiliki banyak pepohonan juga lebih tinggi dibandingkan di lingkungan tanpa pepohonan.

Contoh sederhana di tempat kita adalah tempat parkir, tidak seperti Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia yang melayani parkir di dalam gedung, kawasan perkantoran dan pertokoan di Banda Aceh masih mengandalkan parkir di luar ruangan. Dengan teriknya matahari di kota ini tidak heran bila lapangan parkir yang memiliki naungan pohon akan lebih digemari pemilik kendaraan bermotor dibandingkan dengan lahan parkir gersang.

Manfaat Sosial
Pohon memberikan efek relaksasi bagi manusia membuat manusia hidup lebih tenang. Pohon-pohon yang meneduhkan taman kota menciptakan ruang sosial di mana manusia akan datang, berkumpul, bermain bersama keluarga atau teman lalu berinteraksi. Pohon juga menyaring kebisingan, studi oleh Departemen Energi Amerika Serikat menunjukkan bahwa pepohonan secara kolektif mampu mereduksi tingkat kebisingan wilayah perkotaan hingga 50%. Ini berarti bahwa semakin banyak pohon dibiarkan tumbuh besar di kawasan permukiman, maka warga dapat hidup dengan lebih nyaman (bukan begitu?); fungsi pohon sebagai peredam kebisingan mungkin juga menjadikannya elemen yang tepat untuk dibiarkan tumbuh rapat di sekitar sekolah atau kampus sehingga para pelajar bisa lebih berkonsentrasi di ruang-ruang kelas.

Untuk kasus pohon-pohon besar yang ditebang di Darussalam, sebelum ditebang dulu manfaatnya tidak hanya meneduhkan kawasan sekitar dan para pejalan kaki, di bawah pohon juga sering berteduh penjaja makanan kecil yang pelanggan setia-nya biasanya adalah mahasiswa dan pelajar. Selain itu pohon-pohon tersebut juga digunakan untuk berteduh oleh para orang tua dan keluarga yang mengantarkan anggota keluarganya diwisuda pada musim-musim wisuda sarjana di Universitas Syiah Kuala.

Ingin menambah deretan manfaat pohon bagi keluarga dan tetangga? Tanamlah pohon yang menghasilkan buah yang dapat dimakan bersama atau (mungkin juga) untuk dijual.

Setelah mendiskusikan manfaat pohon bagi manusia, saya ingin kembali ke cerita tentang ’peruntungan’ lain yang mungkin diperoleh ketika berteduh di bawah pohon, bahwa mungkin saja kita kejatuhan semut merah, ulat, ular pohon atau kotoran burung, itu berarti bahwa ada makhluk lain selain manusia yang juga menggantungkan hidupnya pada sebatang pohon. Mereka berumah, berdaur hidup dan berkoloni di sana. Lalu bagaimana nasib mereka bila pohon yang ditumpanginya ditebang?

Mengutip refleksi dari blog dnz journal,
Berapa harga yang sanggup kita bayar untuk bisa menghirup oksigen... Seberapa tinggi harga yang sanggup kita berikan untuk bisa menikmati atraksi dan suara satwa. Seberapa besar kesediaan kita membayar untuk menyegarkan pikiran dan emosi kita dengan menikmati pemandangan yang hijau dan alami serta udara yang segar...
Menurut saya semua hal yang disebutkan di atas tidak akan terbeli dengan uang.

Refleksi Penulis
Walau pohon memberikan banyak manfaat bagi manusia dan lingkungan sekitarnya, namun dalam konteks perkotaan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guna menjaga sinergi hubungan antara pohon, manusia dan lingkungan sekitarnya. Selain bahwa jenis pohon yang dapat ditanam di suatu wilayah sangat tergantung pada kondisi geografis dan ekosistem wilayah tersebut, di wilayah perkotaan penanaman pohon harus disertai dengan perencanaan yang tepat dan perawatan yang memadai. Pepohonan besar berusia tua dengan dahan besar yang terjulur ke arah jalan raya dapat membahayakan pengguna jalan karena dahan-dahan pohon memiliki resiko patah karena usia atau cuaca. Perawatan dan pemeriksaan kondisi pohon secara berkala juga dibutuhkan untuk menghindari resiko pohon tumbang. Selain itu dahan dan ranting pohon juga harus diperhatikan agar tidak mengganggu instalasi listrik atau telepon serta tidak menutupi lampu jalan.

Diskusi ini mungkin tidak memberikan solusi praktis terhadap apa yang harusnya dilakukan untuk menyikapi kasus penebangan pohon di Darussalam, karena memang sejak awal tujuan saya adalah untuk memperkaya pengetahuan diri dan meyakinkan diri sendiri bahwa: pohon bukan "sekedar" pohon, kehadirannya di muka bumi bukan untuk semata-mata dihargai sebagai elemen estetis dalam sebuah bentang alam. Pembelajaran pribadi saya terhadap insiden Darussalam adalah bahwa seharusnya kita (terutama yang berprofesi di bidang perencanaan dan perancangan ruang) bisa bersikap lebih arif dalam memaknai kehadiran pohon sebagai salah satu unsur penting bagi tata-kembang ruang.

Namun saya berharap diskusi ini mampu mengurangi (atau jangan-jangan malah menambah!) rasa kecewa saya akibat penebangan pohon di Darussalam – Banda Aceh, dan semoga juga bermanfaat bagi teman-teman semua. Salam hangat!

Sheffield . 20 Desember 2010

Foto-foto dalam tulisan ini adalah milik Masdar Djamaludin. Profil Masdar bisa diakses (atas izin pemiliknya) melalui: http://www.facebook.com/masdarjamal

Untuk memperbesar tulisan, silakan tekan tombol Ctrl dan + secara bersamaan pada keyboard.

Rujukan:
Benefits of Trees in Urban Area, diakses dari http://www.coloradotrees.org/benefits.htm
“The Amazing Benefits of Trees” Video by The Davey Tree Expert Company, diakses dari http://www.youtube.com/watch?v=ungk6x3OfNs
“Social Benefits of Trees” Video by University of MO Columbia, diakses darihttp://www.youtube.com/watch?v=48mADsiIpCo
Bhumicara. 2008. Tanaman dan Pencemaran Udara, diakses darihttp://bhumicara.wordpress.com/2008/05/23/tanaman-dan-pencemaran-udara/
Dnz Journal. 2010. Manfaat Lebih Berharga dari Fisik, diakses darihttp://dnzjournal.wordpress.com/2010/05/27/manfaat-lebih-berharga-dari-fisik/
The Value of Trees, diakses dari http://www.bowthorpetree.com/77.html
Street Trees, diakses dari http://streetswiki.wikispaces.com/Street+Trees
Urban Forestry in Ohio, diakses dari http://www.ohiosaf.org/urban.htm
What is Topsoil Composed of?, diakses darihttp://www.ehow.com/about_6302808_topsoil-composed-of.html


Catatan:
Masalah penebangan pohon di kawasan Darussalam – Banda Aceh ternyata terkait dengan masalah yang lebih besar yaitu proyek (amburadul) pembangunan drainase yang didanai dan diawasi konsultan asing, yang saat ini tengah diancam Citizen Law Suit karena dianggap telah merugikan masyarakat. Untuk berita lengkapnya silahkan klikhttp://www.serambinews.com/news/view/45058/warning-untuk-pengawas-dan-kontraktor-kakap dan http://www.serambinews.com/news/view/45057/terbuka-peluang-menggugat

Belajar dari Projek ECO-TEC: Menciptakan Bangunan Bermanfaat Ekologis, Ekonomis dan Sosial


Hingga hari ini sampah plastik masih menjadi masalah besar bagi keberlanjutan lingkungan hidup di bumi. Di antara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia adalah botol kemasan minuman ringan, yang secara global dikenal sebagai PET bottle (PET: Polyethylene terephthalate).

Pada tahun 2000, Andreas Froese, seorang pekerja bio-konstruksi yang tengah membersihkan sampah botol plastik dari sebuah festival di Honduras mendapatkan ide untuk menggunakan botol PET bekas menjadi material konstruksi bangunan. Lalu digagaslah pembangunan sebuah rumah ramah lingkungan dengan menggunakan 8000 botol plastik bekas dengan judul projek 'Eco House', berlokasi di Eco Park "El Zamorano" di daerah Tegucigalpa - Honduras, yang kemudian menjadi projek pionir dari Eco-Tec.

Eco-Tec lalu tumbuh menjadi lembaga penyelamat lingkungan berbasis kemanusiaan, misi mereka adalah bersama masyarakat membangun rumah bagi warga miskin dunia sekaligus mengurangi jumlah sampah botol PET bekas dan mengubahnya menjadi hal yang memberi manfaat. Eco-Tec kini bekerja di beberapa negara di antaranya Honduras, Haiti, Uganda, Bolivia dan Mexico. Lembaga ini melengkapi projek-nya dengan training konstruksi bagi masyarakat setempat sehingga proses konstruksi sepenuhnya dapat dilakukan oleh masyarakat. Selain dapat mengurangi sampah, projek perumahan berbahan dasar botol PET bekas ini diharapkan mampu mengurangi jumlah permukiman kumuh di negara-negara tersebut.

Lebih lanjut tentang Eco-Tec dapat dilihat di:
Sheffield . 27 Desember 2010

Sumber:

Eco-House, Projek Eco-Tec di Honduras

Roman Aquaduct, Projek Eco-Tec di Honduras

Konstruksi Rumah Botol PET Projek Eco-Tec di Mexico

Projek Eco-Tec di Uganda

Dinding Taman, Projek Eco-Tec di Haiti

EcoARK Taiwan: Bangunan dari 1,5 Juta Limbah Botol Plastik

“Awalnya kami berpikir sampah apa yang dapat digunakan untuk membangun bangunan yang benar-benar low-carbon, lalu kami melihat ke dalam tempat sampah kami sendiri dan tersadar bahwa di kantor kami sampah terbanyak adalah botol PET bekas karena semua engineer kami suka sekali minum teh dalam kemasan botol,” Arthur Huang (Miniwiz Sustainable Energy Development, Ltd.)


Itulah petikan dari video proses konstruksi EcoARK Exhibition Hall Taiwan, gedung 3 lantai yang dibangun dari 1,5 juta botol plastik bekas yang kemudian tidak saja mengusik kreatifitas banyak orang untuk terus menggali kemungkinan menciptakan arsitektur dari barang bekas tapi juga berhasil menjadi daya tarik wisata di Taiwan.


Fasade bangunan disusun sedemikian rupa dengan menggunakan polli-brick yang terbuat dari botol PET bekas. Polli-brick menciptakan bentuk saling mengait dan mengunci (interlocking) serupa susunan geometris pada sarang lebah madu. Seluruh selubung bangunan adalah botol plastik yang diproses ulang hingga berbentuk kontainer plastik yang saling mengikat kuat sehingga memiliki daya tahan terhadap badai dan gempa bumi.


Fungsi bangunan meliputi amphitheater, ruang pamer/museum dan ‘layar’ air yang berfungsi mendinginkan ruang yang terbentuk dari air hujan bila musim hujan tiba. Dinding bangunan yang terdiri dari jutaan botol plastik ini bersifat tembus cahaya sehingga pada siang hari akan menyaring cahaya alami untuk masuk ke dalam bangunan. Para arsiteknya menyebut bangunan ini sebagai keajaiban lingkungan sekaligus sebagai bangunan paling ringan di dunia.


Bangunan berdimensi panjang 130 meter dan tinggi 26 meter ini dibangun selama 3 tahun dan merupakan milik sebuah grup perusahaan Taiwan, Far Eastern Group, yang bergerak di bidang konstruksi dan keuangan. Namun pada bulan Mei 2010 lalu oleh Far Eastern bangunan ini diserahkan kepada pemerintah kota.


Sheffield . 28 Desember 2010


Sumber:


Fasade EcoARK yang dibangun dari polli-bricks


Sisi Luar Eco-ARK


Sisi Dalam Eco-ARK


Konstruksi polli-bricks, merupakan bagian bawah botol plastik yang bila disusun memiliki efek saling mengikat